pencari suaka keadilan

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Beranda

india

bendera kebenaran itu bukan hanya ada di teras rumah kita
jangan-jangan kebenaran itu ada di mulut dan kepal tangan mereka
sediakan saja telinga hati dan kepala
dengarkan baik-baik dan seksama kebenaran versi mereka

mereka sejatinya sedang membuat prasasti zaman
bahwa kebenaran harus diperjuangkan
bila aksi berbuah kecaman
takkan surut, teriakkan perang kepada kezaliman

teruslah maju melaju
teruslah sampaikan nuranimu
bila ada pagar menghadangmu
singsingkan lengan baju teriakkan nyalimu

17-06-2016

Review Diskusi BPJS, Jaminan Kesehatan: antara masalah dan tantangan

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Analisis Kebijakan Publik

 

organisasi

Siang itu, matahari masih menyengat di lingkungan Gedung Dekanat FK Universitas Jenderal Soedirman. Tetapi, begitu memasuki gedung, suasana berubah drastis. Dingin. Setelah memasuki ruangan serbaguna di lantai 2 gedung Dekanat itu, suasana nampak lebih hangat. Apalagi melihat pembicara sudah mulai menyampaikan materi, Pak Kajur yang menyambut ramah, serta peserta yang duduk seperti singa yang siap menerkam mangsa. Ya, siang itu kami memang akan berdiskusi mengenai BPJS. Makhluk yang lahir kemarin sore, yang punya seribu muka. Bagi pasien tidak mampu, BPJS bak malaikat penolong. Bagi tenaga medis yang klaimnya dibayar tidak penuh, BPJS seperti copet yang harus diteriaki. Bagi tenaga medis yang mendapatkan kapitasi yang lumayan, BPJS seperti balon, kadang dipukul ke atas, kadang dipeluk, tetapi kadang pula diletuskan. Bagi wartawan, BPJS seperti ban bocor, dicari lubangnya, kalo sudah ketemu segera dicoblos untuk ditembel. Persis. BPJS bagi wartawan selalu dicari kekurangannya. Prinsip” bad news is good news”, amat mereka pahami untuk kasus BPJS. Bagi pemerintah, BPJS seperti sansak (betul nggak istilahnya?), itu bantal berisi pasir atau kapas yang lazim dipukul atau ditendang saat latihan beladiri. Ia dibiarkan saja dipukul dan ditendang. Malah kadang yang empunya kadang berteriak” ayo pukul yang keras, jangan pelan-pelan”.  Hingga akhirnya, yang mukul capek dan berhenti, yang empunya tersenyum penuh kemenangan dan bersenang hati.
Diskusi ini dimulai dengan materi pengantar oleh Dr. Sc.hum, Budi Aji, SKM, M.Sc . Dr. Budi menyampaikan hal menarik tentang mengapa diperlukan jaminan kesehatan; dan perbedaan antara Askesos dan Komersial. Beliau menyampaikan bahwa setidaknya ada beberapa faktor yang menyebabkan pentingnya jaminan kesehatan. Pertama, kegagalan pasar pelayanan kesehatan yang acapkali gagal untuk memberikan si miskin haknya untuk mengakses fasilitas kesehatan. Kedua, kehidupan manusia yang berpotensi resiko (sakit). Resiko menanggung biaya pelayanan ketika sakit harus dicarikan solusinya, yaitu dengan mentransfer resiko ini (risk transfer) kepada asuransi kesehatan. Ketiga, manusia bersifat short sighted, yaitu menunjuk kebiasaan manusia yang hanya memikirkan hal-hal yang jangka pendek. Hal ini kadang kala dapat muncul dari orang-orang yang berkantung tebal. Ia tak perlu memikirkan asuransi, sebab, jika ia sakit ia mampu membeli layanan kesehatan. Short sighted ini seharusnya tidak dilakukan oleh orang dengan penghasilan pas-pasan, sebab ia tak punya sumber daya untuk menanggulangi resiko pembayaran pelayanan kesehatan jika ia sakit. Sehingga, asuransi kesehatan menjadi amat diperlukan.
Perbedaan antara askesos dan komersial  kemudian menarik untuk ditelaah. Dr. Budi menyampaikan bahwa Askesos bercirikan kepesertaan wajib bagi seluruh penduduk, non profit, dan manfaatnya bersifat komprehensif. Sedangkan, Asuransi komersial kepesertaan bersifat sukarela, profit dan manfaat yang diterima sesuai dengan premi yang dibayarkan.
Setelah sesi pengantar, Pak Joko sebagai moderator pun mempersilahkan para peserta untuk berkomentar tentang BPJS. Banyak hal menarik yang didapat dari sesi ini. Para peserta diskusi dari tenaga medis kebanyakan berkeluh kesah tentang BPJS, terutama adalah tarif yang tak masuk akal, klaim yang tak dapat dibayar maksimal, serta aturan-aturan kementerian yang aneh, unik, dan tentu saja langka. Salah satu peserta diskusi dari tenaga medis menyatakan bahwa selama ini BPJS tahu jika klaim yang dibayar dibawah dari real cost. Ada lagi peserta diskusi yang amat berapi-api, “Ayo kita rubah, jika memang itu tak sesuai, ayo kita bergerak. Kebijakan itu kalo memang salah harus kita lawan, jangan diam saja. Begitu SK turun dan tidak sesuai dengan lapangan jangan hanya diam, manut dan tunduk patuh saja. Jangan, ayo kita rubah. Kita ajak mereka berdiskusi dengan kondisi riil di lapangan. Kebijakan harus pro kepada Anda dan kita semua”. Wuih, senang rasanya mendengarnya berapi-api. Mengingatkan saya dengan seorang orator mahasiswa saat berdemo.

Peserta diskusi dari FISIP kemudian masuk untuk memberi pandangannya. Mas Lutfi menyampaikan bahwa masalah BPJS dari beberapa pendapat menunjukkan adanya pergulatan antara BPJS – Tenaga Medis, BPJS – Pemerintah, BPJS – Masyarakat, Tenaga Medis – Masyarakat. Keadaannya memang tak cukup sederhana untuk diurai. Selain itu, pemerintah sebagai pihak yang paling bertanggung jawab memang harus turun tangan dan menyelesaikan semuanya. Pemerintah tetap harus hadir untuk menyelesaikan ini. Alokasi Fiskal untuk subsidi bidang kesehatan seharusnya memiliki range yang lebih besar setelah dicabutnya subsidi BBM.
Salah satu peserta dari FISIP lainnya kemudian menambahkan. Bahwa penentuan harga yang wajar untuk premi jaminan kesehatan bukanlah hal yang mudah. Pertama, data orang miskin di Indonesia merupakan data politis yang kadang kala tidak menunjukkan hal yang sesungguhnya. Kedua, selama ini ada misteri di ruang publik tentang harga atau ongkos pelayanan kesehatan. Dalam nuansa kebatinan publik, di sana ada misteri tentang pelayanan kesehatan, harga obat, fee dokter, sewa alat, pengadaan dan perawatan alkes, dan lain-lain. Alam bawah sadar publik menyatakan bahwa harga pelayanan kesehatan adalah mahal. Sedangkan dalam nuansa kebatinan tenaga kesehatan, mereka menyatakan bahwa tarif yang berlaku adalah (telah) wajar. Nuansa kebatinan publik dan tenaga kesehatan dengan demikian tidak nyambung. Satu sisi, tenaga kesehatan mengaku tidak pernah di bayar penuh klaimnya, terlalu kecil, tetapi jaspel yang diterima tenaga kesehatan, manajemen rumah sakit, dan staff administrasi selalu besar. Publik kemudian bersuudzan bahwa mereka sudah terlalu mahal membayar layanan kesehatan. Asumsi serupa nampaknya juga mendapatkan pembelaan dari BPJS, sehingga kadangkala tak membayar penuh seluruh klaim yang diajukan.
Maka menarik statemen dari salah satu peserta yang dokter dan juga dosen. “Nampaknya, sekarang kita berada dalam dunia yang selalu berburuk sangka, tenaga medis berburuk sangka kepada BPJS, BPJS juga sebaliknya, publik berburuk sangka kepada tenaga medis, dan BPJS. Mungkin sekarang saat yang tepat untuk memulai komunikasi yang lebih terbuka antara para pihak yang terkait”.
BPJS memang akan selalu menarik untuk didiskusikan, dan tak terasa sudah hampir 2 jam diskusi itu berlangsung. Diskusi ini dari gelagatnya merupakan diskusi awal. Nantinya akan ada diskusi-diskusi turunannya yang akan membahas BPJS (lagi) atau hal yang lain. Tapi melihat dan mendengar para peserta diskusi menyampaikan pendapat-pendapat yang cerdas, dan lugas. Itu sudah cukup meyakinkan bahwa publik tak akan kalunto-lunto. Karena ada kaum intelektual yang menaruh hati dan pikirannya bukan ditubuhnya, tetapi di tubuh rakyat yang haus kebenaran dan keadilan.

08-08-2015
08.05 – 08.45

Terima Kasih Gus…

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Opini & Sitasi

gus mus
Rumah kami di Rembang tak lebih dari 2 kilometer dari Pondok Pesantren Roudhotut Tholibin. Setiap Jumat pagi, kami dahulu pasti melihat ratusan santri berjalan pulang ziarah dari makam Mbah Bisri (KH. Bisri Mustofa – semoga Allah merahmatinya).  Ibu kami, hingga kini juga ikut pengajian di pondok itu setiap Selasa dan Jum’at pagi dengan berjalan kaki.  Sebagai orang yang selalu mengaku berasal dari Rembang, saya selalu bangga menyebut Mbah Mun (KH. Maemun Zubair), Mbah Cholil (KH. Cholil Bisri – semoga Allah merahmatinya), dan Gus Mus (KH. Mustofa Bisri).
Jauh hari sebelum Muktamar NU di Jombang, secara pribadi saya amat penasaran dengan peran yang bakal dimainkan oleh Mbah Mun dan Gus Mus. Seiring dengan isu AHWA, juga  karena mereka adalah panutan kami. Tentang Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA), teringat pula pesan Mbah Cholil untuk mendesain sendiri demokrasi ala Islam dan Indonesia. Musyawarah harus menjadi ruh dalam pengambilan keputusan. Ide tentang perubahan mekanisme pemilihan pimpinan tinggi NU ke arah perwakilan, semakin menguat pasca Muktamar NU di Makasar yang dianggap liberal.
Berita itu pun muncul, pertama tentang Mbah Mun yang duduk agak di belakang, duduk di urutan ketiga, dan bersemangat untuk berdiri (meskipun sudah sepuh) saat lagu Indonesia raya berkumandang. Tentang posisi duduk Mbah Mun yang “agak belakang” itu, banyak orang dan netizen komplain. Mereka menganggap panitia tak menghormati Kyai yang amat dihormati itu, kemudian mengembangkan sangkaan panitia lebih menghormati pejabat negara dari pada para ulama. Tapi saya justru mencoba menyelami bagaimana Mbah Mun, Mbah Cholil, dan Mbah Sahal (KH. Sahal Mahfudz) mengajarkan tentang makna rendah hati, andap asor, dan tak gila hormat. Mbah Mun dari sikapnya itu, sebenarnya hendak mengajarkan tentang makna rendah hati, yang memang sulit diterima oleh orang yang tinggi hati, dan gila hormat. Sering sekali Mbah Mun menunjukkan sikap insan yang tak suka ribut, apalagi soal-soal yang begituan. Beliau memang memiliki derajat berbeda. Mbah Mun hendak mengajarkan bahwa mutiara tetaplah mutiara, dimanapun ia berada.
Pasca itu, berita yang santer adalah berita tentang hiruk pikuk pleno muktamar yang sulit sekali mengambil kata sepakat tentang cara memilih pimpinan tertinggi (Rais Aam) dan Ketua Tanfidz. Saat membaca berita itu, dalam hati saya yakin akan hadirnya tokoh yang dihormati, disegani, dan petuahnya amat dipatuhi. Saat-saat seperti itu, saya teringat dengan munculnya Semar dalam pewayangan, yang akan muncul ketika goro-goro, keadaan kacau-balau, dan carut marut. Semar pun memberikan arahan ke arah perbaikan, saran dan pendapatnya solutif dan dapat diterima semua kalangan.
Dua sosok pun langsung terbayang.  Saya teringat dengan Mbah Sahal dan Gus Mus. Kepulangan Mbah Sahal ke rahmatullah memang terasa amat cepat bagi kami yang mencintainya. Gus Mus pun merasa ketiban sial untuk menjadi Rais Aam, acapkali beliau mengatakan bahwa ia tak pernah tau jika Rais Aam mangkat, maka Wakil Rais Aam yang harus menggantikan. Apalagi, ia tak pernah tahu jika Mbah Sahal akan dipanggil secepat itu. Andai saja Gus Mus tahu, jika suatu saat ia akan menggantikan Mbah Sahal, ia tak akan pernah mau mengambil jabatan itu. Rais Aam NU itu amanah yang amat sangat berat dan keramat.

Dan waktu yang dinanti itu pun tiba….

Saat suasana tak terkendali, Sang Rais Aam pun memegang mikrofon…

Raut wajah beliau menunjukkan beliau sedang lelah selelah lelahnya. Beliau sudah tak bisa tidur semalaman, memikirkan muktamar yang ada dalam tanggung jawabnya…namun ia harus tetap pegang kendali muktamar kali ini. Suaranya bergetar, bahkan menahan isak….

“Ketika saya ikuti persidangan-persidangan yang sudah lalu, saya menangis karena NU yang selama ini dicitrakan sebagai organisasi keagamaan, panutan penuh dengan akhlakul karimah, yang sering mengkritik praktik-praktik tak terpuji dari pihak lain ternyata digambarkan di media massa begitu buruknya. Saya malu kepada Allah, malu pada KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri dan para pendahulu kita. Lebih-lebih ketika saya disodori koran yang headlinenya ‘Muktamar NU Gaduh, Muktamar Muhammadiyah Teduh’.

Saya mohon sekali lagi, kita membaca surat Al-Fatihah dengan ikhlas, mohon syafaatnya (Nabi Muhammad SAW).

Rais Aam yang membikin saya menjadi punya posisi seperti ini, KH Sahal Mahfud, mengapa beliau wafat sehingga saya memikul beban ini. Saya pinjam telinga anda, doakan saya, ini terakhir saya menjabat jabatan yang tidak pantas bagi saya.

Dengarkanlah saya sebagai pemimpin tertinggi anda.

Mohon dengarkan saya, dengan hormat kalau perlu saya mencium kaki-kaki anda semua agar mengikuti akhlakul karimah, Akhlak KH Haysim Asy’ari dan pendahulu kita.

Saya panggil kiai sepuh, rata-rata mereka prihatin semua, prihatin yang sangat mendalam. Di tanah ini terbujur kiai-kiai kita, di sini NU didirikan apa kita mau meruntuhkan di sini juga, Naudzubillah, saya mohon dengan kerendahan hati Anda melepasksan semuanya, dan memikirkan Allah dan pendiri kita.

Jadi, setelah mempelajari situasi, maka para kiai yang berkumpul sampai tadi siang, di samping keprihatinan juga beberapa poin yang perlu dijadikan pedoman pembahasan selanjutnya.

Cuma sedikit yang kita sepakati untuk solusi agar tidak sama dengan di Senayan.

Pertama, apabila ada pasal yang belum disepakati dalam muktamar tentang pemilihan Rais Aam, tak bisa melalui musyawarah mufakat, maka akan dilakukan pemungutan suara oleh para Rois Syuriah

Kalau nanti Anda-Anda tidak bisa disatukan lagi, maka saya dengan para kiai memberikan solusi, kalau bisa musyawarah kalau tak bisa pemungutan suara. Itu AD/ART kita. Karena ini urusan pemilihan Rais Aam, maka kiai-kiai akan memilih pemimpin kiai.

Dan tatib yang sudah disepakati perlu segera dilakukan. Kalau ini Anda tetap tidak terima, maka saya yang terima, karena saya hanya Mustofa Bisri, saya hanya orang yang ditimpa kecelakaan menjadi pengganti Kiai Sahal. Kalau tidak, lepaskan saya saja.

Doakan mudah-mudahan saya hanya sekian saja untuk jadi Rais Aam.

Saya sejak semalam belum tidur, bukan apa-apa, karena memikirkan anda-anda sekalian. Saya mohon maaf kepada semua muktamirin terutama yang dari jauh dan tua-tua, teknis panitia yang mengecewakan anda, maafkan lah mereka, maafkan saya. Itu kesalahan saya, mudah-mudahan anda sudi memaafkan saya….”

Suasana sidang yang sebelumnya dipenuhi hirup pikuk, pada saat Gus Mus Sang Rais Aam bertutur berubah menjadi sepi-sesepi-sepinya, beberapa orang menangis, beberapa meneteskan air mata, ada yang berkaca-kaca, dan kebanyakan menunduk…

Membayangkan beliau memberikan tausiah ini, air mata saya pun jatuh. Kekuatan ruhiyah yang luar biasa. Tutur bahasa yang santun yang mampu menembus dada-dada yang sedang bergejolak. Mendinginkan dada-dada yang panas. Menenangkan gejolak amarah yang meronta-ronta. Mengingatkan kembali tentang Allah dan Rasul-Nya. Mengajak kembali kepada persatuan dan bukan pada ambisi picisan.

Tausiyah itu seperti dirijen paduan suara. Semua suara seakan tunduk di ujung tongkatnya. Semuanya tak mampu menolak ajakannya, untuk kembali taat kepada pimpinan tertinggi. Semuanya tunduk terpekur mengakui kesalahan-kesalahan sendiri tanpa harus dicaci. Ia hanya ungkapkan maaf, tanpa mau mencari kambing hitam atau putih. Ia ambil segala resiko caci maki atas segala kejadian yang terjadi. Ia mohonkan maaf, untuk mendapatkan semua ridho di hati. Ia memang pantas menjadi Rais Aam. Terima kasih Gus, telah mengajarkan kami tentang makna menjadi pemimpin sejati…

—belajar menjadi orang tua—

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Beranda

pesanku2

—semoga engkau bahagia di sana ananda—

anak sekecil itu kepalanya berdarah
diayun bambu ayahnya yang sudah dibakar amarah
anak tetaplah anak, setelah mencuci muka karena berdarah ia hampiri sang ayah
ia sodorkan tangan untuk pinta maaf dari ayahnya
diciumnya tangan sang ayah dengan penuh sukma
lama nian tangan itu ada di genggamannya
tak beringsut hingga sang ayah menarik tangannya
ayah yang sudah terlanjur marah baru terperanjat
meski sudah dibasuh, ada bercak darah di wajah anaknya
dibelainya wajah sang anak, binar mata sang anak bertemu kedua bola matanya
ada senyum bercampur sakit di sela darah yang pelan mengalir
darah itu makin keras, dan deras
anak itu terhuyung di depan sang ayah
dipeluk erat dan kepanikan mulai merambat
dibalutkan kain di kepala sang anak, agar darah berhenti mengalir
namun darah enggan mengerti, dan ia terus saja mengalir
dipeluknya erat sang anak, diboyong dan dibawanya lari
ia berteriak, “toloong…toloong anak saya”
namun semua terlambat
nafas mulai tersengal
dipelukan sang ayah, anak itu menemui pemilik aslinya…

Lereng Gunung Slamet, 24 Februari 2015

Penggalan narasi di atas adalah kisah nyata di ujung bumi sana. Ia tak usah ditafsirkan lagi. Hanya butuh introspeksi. Di sana, ada cerita orang tua yang tak juga mampu menunjukkan sabar. Di sana ada cerita anak suci yang selalu tahu atas setiap kesalahan yang diperbuatnya. Pagi ini mungkin pagi terpanjang untuk menunggu kalian pulang sekolah anak-anakku. Dalam hati ayah berjanji, siang ini akan ayah tunggu kalian pulang dari sekolah. Ayah telah sediakan pelukan hangat untuk kalian, sebagai untaian kata maaf. “Maaf jika ayah belum sempurna memberi pelajaran sabar untuk kalian, Ayah sayang kepada kalian.”

…bila kuasa selalu dusta…

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Opini & Sitasi

bila

…bila kuasa selalu dusta…

kemarin kau bilang putih
kini kau bilang merah
kemarin kau bilang jingga
kini kau bilang merah muda

kemarin kau bilang cukup sekali
kini kau ingin jadi yang kedua kali
kemarin kau bilang kami penting sekali
kini kau bilang kami tiada arti

kemarin kau bilang bisa membela kami
kini kau bilang saya tak peduli
kemarin kau bilang jabatan adalah amanah
kini kau rampas hak kami dengan amarah

kemarin kau bilang akan sehatkan kami
kini kami yang sedang sakit lelah menunggu mati
kemarin kau bilang akan lebarkan jalan
kini kau bilang tak ada anggaran

kemarin kau bilang akan sejahterakan kami
kini kau beli barang mewah untuk harga diri
kemarin kau bilang rela mati untuk kami
kini kau persilahkan kami menuju mati

kemarin kau bilang tak akan ada korupsi
kini kau mulai mencari celah bak pencuri
kemarin kau bilang tak akan kolusi
kini pejabat tuan dari keluarga dan kroni

kemarin kau bilang akan hancurkan angkara
kini kau murka bila kami ajak bicara
kemarin pelangi itu setia di sisi kami
kini entah kemana pergi tak ada di sini

kemarin masih ada jabat tangan
kini yang ada hanya kemurkaan
pukullah pipiku, tak usah sedih kawan
mungkin aku sedang mimpi kesiangan…

Dwiyanto Indiahono
Kaki Gunung Slamet, 10-02-2015

“…Sang Semar Pasti akan Datang…”

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Beranda

organisasi

Saya masih ingat betul, hari itu, hari Jumat saat pertama kali mengikuti kuliah Prof. Muhadjir Darwin tentang Epistemologi Ilmu Administrasi Negara.  Filsafat ilmu pengetahuan begitu nama lainnya. Pendek kuliahnya, tapi cukup membuat dahi berkerut. Penjelasan yang sederhana tetapi dalam, amat mengesankan. Hal yang rumit, ditangan beliau tampak mudah. Setelah lama mengenyam bangku kuliah, seingat saya, kuliah di hari itu amat mencerahkan dan membuat saya senang. Betul. Bahagia rasanya dapat menempuh mata kuliah ini. Sebagai penutup perjumpaan, dua buku tebal tentang Epistemology dari Sang Pengajar telah tersedia sebagai menu penutup sore itu.

Satu hal yang dapat dipelajari dalam pertemuan itu adalah bahwa di dunia ini ada dua kecenderungan manusia. Satu sisi, pihak yang menginginkan adanya kondisi yang teratur, status quo, atau order; dan di pihak lain ada yang selalu menginginkan perubahan dan revolusi, yang dapat berbentuk radical humanist dan radical structuralist. Persis seperti kondisi kita sekarang ini. Ada yang minta supaya kasus-kasus korupsi jangan dipublish agar tak mencoreng moreng nama baik institusi. Ada juga yang minta kasus-kasus itu dibuka, dijadikan bahan rujukan untuk berubah dan mendorong agar perubahan segera terwujud. Pergantian pejabat harus dilakukan guna mencapai perubahan yang diinginkan (hampir persis sama seperti logika para pengusung radical structuralist yang menginginkan perubahan pada struktur).

Saya pun teringat tentang tentang filsafat Jawa pada wayang kulit. Wayang kulit di hampir setiap sesinya juga menghadirkan banyak sekali pelajaran. Salah satunya, setelah “goro-goro” atau keadaan kacau balau akan muncul Sang Semar. Semar akan datang pada waktu yang tepat sebagai pengarah menuju kondisi tatanan perikehidupan pro-kebenaran yang baru. Bukan pada saat “order atau status quo”, tetapi pada saat “change dan chaos” itulah Sang Semar hadir. Jadi, nikmati saja kekacauan ini. Sebab siapa tahu di masa-masa ini akan ada Semar yang akan muncul sebagai pembaharu. Dan jika, tuan puan di kantor petinggi sana telah merasa menjadi Semar. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk menyapa para kawula alit, memberikan pernyataan apa yang sebenarnya terjadi, jalan apa saja yang telah ditempuh dan bagaimana para kawula alit harus bersikap. Menyitir apa yang pernah diteriakkan Iwan Fals: “Jangan hanya diam, (karena) kalian dipilih bukan dilotre”…

—catatan pagi, ditemani secangkir kopi—
Indiahono 25092014

“…Kampus ini, Kampus Kebenaran…”

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Beranda

pembicara orator

berperi rasa baca berita
tuan cendekia terlibat nista
uang rakyat ditilep juga

tiadakah tuan berkaca
dulu tuan juga jelata
berasal dari bayi tiada harta

kini tuan mulai rasakan penjara
teman-teman juga berduka
apakah ini bukan duka terbesar kita?
tuan puan sedih karna koruptor itu teman kita
bukan berarti koruptor tak harus bertemu hakim ketua

jika tuan puan yakin ia tiada bersalah juga
kepal tangan ini selalu ada untuknya
tapi jika ia salah, tiada guna membela
yakinlah hukum kan membuat kita tegak membela dunia

—kami di sini, melawan korupsi juga…—

indiahono, kaki gunung slamet
24092014

Hari ini dunia kampus kembali dihebohkan dengan berita tentang babak baru penyelidikan kasus korupsi di Kampus “Slamet”-Kampus Unsoed. Banyak dosen yang merasa sedih, terpukul, kaget dan berbagai rasa lain yang mungkin agak aneh untuk diceritakan. Kampus harus jadi benteng gerakan anti korupsi, kampus memang harus menjadi contoh untuk gerakan perubahan ini. Tak pelak lagi, jika ada kasus korupsi di kampus, maka tak perlu sedih tak perlu ada duka.

Duka kita hanyalah kepada orang-orang yang telah salah jalan itu, dan berdo’a semoga segera kembali ke jalan yang benar. Jika ia harus diperiksa, diadili dan dipenjara karena memang terbukti bersalah, maka sebagai pembela gerakan anti korupsi Kampus harus tetap tegar, tegas dan jelas mengatakan: “beri sanksi sesuai kaidah hukum sejati”.

Jadi terungkapnya kasus korupsi bukanlah aib, yang aib itu jika ada orang berbuat maksiat (korupsi) dilindungi dan diam untuk tidak melakukan hal apapun untuk memperbaikinya. Banggalah karena kampus kita telah berani melakukan pembersihan, biarlah hukum yang akan memproses kebenaran berdasar fakta yang diungkap tanpa rekayasa. Senyumlah, karena kita tetap berada di garda depan pembela kebenaran.

—Kampus ini akan tetap tegar membela kebenaran—