Saatnya Tuan Turun

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Beranda

india

Bila ujung lidah tak lagi bisa dikendali
Bila lisan sakiti nurani
Bila tuan sudah usik agama kami
Saatnya tuan turun tahta sekarang juga

Bila ujung lidah gemar membentak
Seakan-akan rakyat selalu didudukkan sebagai pemberontak
Dan tuan selalu ingin menang seperti tukang palak
Saatnya tuan turun tahta sekarang juga

Bila tuan selalu tak peduli
Jerit suara rakyat yang terperi
Karena penggusuran setiap hari
Saatnya tuan turun tahta sekarang juga

Bila tuan selalu memaki
Umpat sana, umpat sini
Seperti tuan punya derajat paling mulia sendiri
Saatnya tuan turun tahta sekarang juga

Meski katanya tuan slalu perjuangkan kebenaran
Anak-anak kami tak perlu ditunjukkan umpatan-umpatan
Umpatan seakan-akan menjadi kosakata mulia yang harus dilakukan
Tuan, kami punya anak-anak yang butuhkan teladan
Umpatan-umpatanmu meluluhlantakkan seluruh pelajaran kesopanan

Ayam jantan memakan kurma
Makan sembilan sisakan sebiji
Bila tuan nistakan agama
Usahlah tuan menjabat lagi

Kaki Gunung Slamet, 07-10-2016
Dwiyanto Indiahono

Karat Pintu Istana

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Beranda

india
Pintu istana telah berkarat
Ditiup angin genit yang berhembus di sebilah sedotan

Harusnya kau tak berkarat
Bukankah engkau kayu rendaman

Direndam dalam rindu tak berkesudahan
Direndam dalam cinta setinggi cita

Kau tetap berkarat
Dalam asa yang remuk redam

Kaki Gunung Slamet,
Dwiyanto Indiahono 01-08-2016

Petir Baladewa

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Beranda

india

Baladewa berdiri di tengah raja dan pejabat teras Hastina
Hatinya bergemuruh murka
Dipandanginya satu persatu para kesatria
Sang raja Duryodana pun tak sanggup menatap matanya

Matanya merah semerah-merahnya
Kepal tangannya keras sekeras-kerasnya
Andaikan di depannya ada besi baja
Besi itu pun lumer karna marahnya

Kakanda Duryodana dan para kesatria
Inikah jalan yang sengaja kalian cipta
Menabuh genderang perang dengan suka cita
Merampas, merampok kerajaan dari Pandawa

Kudengar hati kalian bersorak dengan perang ini
Padahal di sana, para prajurit ingin lari dari perang suci
Tak ada anak yang ingin kehilangan ayahnya
Tak ada ibu yang ingin kehilangan anaknya
Kalian memang penipu digdaya
Hukum bisa kau lipat, seakan-akan kau memang selalu benar adanya
Tidak saudaraku, semua orang telah melihat kasat mata
Apa yang kalian lakukan itu kebenaran yang fata morgana

Duryodana hanya bisa menatap tajam pedang dan seragam perangnya
Ingin rasanya ia mendebat habis adiknya
Namun ia tak kuasa
Amarah Baladewa yang meledak bagai beban berat yang buat dia tak mampu bersuara

Baladewa menyingsingkan baju bawahnya
Derap langkah itu tegas meninggalkan istana Hastina
Para ksatria hanya mampu mengiring kepergiannya dengan lirikan mata
Tak berani ujung mata mereka bertemu sekecil saja bagian mata Baladewa

Empat hari telah berlalu
Baratayuda tetap menunggu

Di tempat Pandawa, Baladewa berdiri sama
Sama saat ia berdiri di depan para Kurawa
Sorot matanya tetap tajam setajam-tajamnya
Matanya tetap merah semerah-merahnya

Saudaraku Pandawa, engkau tahu
Adikku adalah istri Arjuna
Kakakku adalah istri Duryodana
Anak-anak yang lahir dari mereka adalah keponakanku, keponakan kalian semua

Aku tetap menolak perang ini
Aku tetap membenci perang yang kalian bilang suci
Bukan karena kalian adalah saudara-saudaraku
Bukan karena kalian adalah darah dagingku

Di Istana Duryodana dan sekutunya aku telah sampaikan
Bahwa mereka itu perampok ulung yang ketahuan
Tetapi di sini, aku juga membenci kalian
Di sini, ada gunung haus yang puncaknya bernama rakus kekuasaan

Kalian Pandawa, bukankah telah dinisbatkan sebagai pembela keadilan, kebaikan dan kebenaran
Tetapi kenapa kalian tak cukup dengan kerajaan-kerajaan yang telah ada di tangan
Tak cukupkah itu semua?
Kurangkah itu semua?
Jangan-jangan orang-orang itu telah salah menilai kalian

Jika kalian masih kurang berkuasa
Kalian bisa datang dan ambil sebagian kerajaanku di Manthura
Atau kalian bisa datang dan ambil sebagian kerajaan milik Sri Kresna
Semua bisa kalian dapatkan dengan percuma tanpa angkat senjata

Mereka Kurawa memang keliru, tetapi kekeliruan mereka pun bagian dari kekeliruan masa lalu
Setiap kita punya andil dalam setiap kekeliruan orang lain saudaraku
Entahlah, mungkin aku ini yang keliru
Tetapi, satu keyakinanku, menolak perang ini adalah kebenaranku

Baladewa menggenggam tangan erat seerat-eratnya
Ditatapnya langit yang mulai ciut dengan tatapannya
Dihentakkan langkah pertamanya
Ditinggalkan istana Pandawa dengan banyak tanda tanya

Baladewa dan bala tentaranya menyingkir dari peperangan
Baladewa menyepi dan tinggal di pinggiran
Tak ingin ia mendengar update peperangan
Ditutup telinganya, tak mau dengar siapa yang kalah dan bermandi kemenangan

Kaki Gunung Slamet 31-07-2016 07:22 WIB

Arjuna di Simpang Jalan…

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Beranda

india

Arjuna menatap tajam hamparan tanah lapang di depannya
Ia tak pernah membayangkan jika esok hari ia harus bertaruh nyawa di medan laga
Ia sempat ciut, bukan untuk perang dan kekalahan
tetapi untuk saudara, korban dan kemanusiaan

Kepal tangannya mulai melemah direnggangkan
Hati kecilnya berkata, usahlah perang dilangsungkan
Cukuplah kerajaan kecilnya jadi surga
Tak usah menuntut kerajaan besar jika harus ditebus dengan ribuan nyawa

Sri Kresna di kemah perang mulai gelisah merana
Arjuna Sang Patih tiada di tempatnya
Padahal strategi perang harus siap sedia
Tanpa cacat untuk kemenangan nyata

Kereta kuda kencana miliknya dikebut sebisanya
Secepat kilat secepat cahaya
Kresna tau di mana ia dapat menemukan Arjuna
Di suatu tempat di dekat medan laga

Dari kejauhan kepulan debu itu menggambarkan siapa yang akan menghampirinya
Arjuna tetap menatap tajam hamparan tanah lapang di depannya
Kresna datang dalam diam seribu bahasa
Turut memandang medan laga dengan sorot tajam setajam-tajamnya

Arjuna, aku tahu apa yang sedang kau rasa
Selepas berkata, sepi dan debu yang beterbangan semakin terasa
Jika Tuan sudah tahu, tiadalah guna Tuan di sini bersama Arjuna
Hamba sudah berketetapan, esok hari Arjuna tidak ada di medan laga

Arjuna, kehidupan itu bukan semata-mata tentang kerajaan dan kekuasaan
Ia juga harus diwarnai dengan perjuangan menegakkan keadilan dan kebenaran
Jika saja engkau tak maju perang di esok hari
Itu takkan mengubah apapun tentang perang ini

Ini bukan hanya tentang keberanian
Perang ini juga akan menunjukkan kesetiaan
Kesetiaan kepada keadilan dan kebenaran
Kesetiaan kesatria kepada janji prajurit dan persaudaraan

Tak mengapa engkau tinggalkan saudara-saudaramu dalam perang ini
Tak mengapa engkau hanya peduli kerajaan kecilmu yang kau anggap abadi
Tapi ingat, jika engkau lari dari perang ini
Di manakah wajahmu di catatan sejarah kepahlawanan
Di manakah mukamu di catatan kesatria pembela keadilan, kebenaran dan persaudaraan
Kresna memandangi wajah Arjuna yang mulai kemerahan
Pertanda api semangat perang kembali bisa dikobarkan

Tuan Kresna, Tuan memang pandai memainkan hati hamba
Tapi Tuan, jika saja Arjuna mengangkat senjata dalam laga
Berjanjilah tak kan ada lagi genderang perang
Berjanjilah tak kan ada lagi kedholiman

Arjuna, Aku tak berani berjanji apakah esok hari tiada lagi perang
Yang aku tahu, di setiap masa yang kelam akan ada benderang
Tabir kelam kadang hanya bisa dibuka dengan perang
Usahlah kau bimbang, sebab sang malam akan selalu setia dengan sang siang

Kaki Gunung Slamet, 29-07-2016 10:18 WIB

pencari suaka keadilan

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Beranda

india

bendera kebenaran itu bukan hanya ada di teras rumah kita
jangan-jangan kebenaran itu ada di mulut dan kepal tangan mereka
sediakan saja telinga hati dan kepala
dengarkan baik-baik dan seksama kebenaran versi mereka

mereka sejatinya sedang membuat prasasti zaman
bahwa kebenaran harus diperjuangkan
bila aksi berbuah kecaman
takkan surut, teriakkan perang kepada kezaliman

teruslah maju melaju
teruslah sampaikan nuranimu
bila ada pagar menghadangmu
singsingkan lengan baju teriakkan nyalimu

17-06-2016

—belajar menjadi orang tua—

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Beranda

pesanku2

—semoga engkau bahagia di sana ananda—

anak sekecil itu kepalanya berdarah
diayun bambu ayahnya yang sudah dibakar amarah
anak tetaplah anak, setelah mencuci muka karena berdarah ia hampiri sang ayah
ia sodorkan tangan untuk pinta maaf dari ayahnya
diciumnya tangan sang ayah dengan penuh sukma
lama nian tangan itu ada di genggamannya
tak beringsut hingga sang ayah menarik tangannya
ayah yang sudah terlanjur marah baru terperanjat
meski sudah dibasuh, ada bercak darah di wajah anaknya
dibelainya wajah sang anak, binar mata sang anak bertemu kedua bola matanya
ada senyum bercampur sakit di sela darah yang pelan mengalir
darah itu makin keras, dan deras
anak itu terhuyung di depan sang ayah
dipeluk erat dan kepanikan mulai merambat
dibalutkan kain di kepala sang anak, agar darah berhenti mengalir
namun darah enggan mengerti, dan ia terus saja mengalir
dipeluknya erat sang anak, diboyong dan dibawanya lari
ia berteriak, “toloong…toloong anak saya”
namun semua terlambat
nafas mulai tersengal
dipelukan sang ayah, anak itu menemui pemilik aslinya…

Lereng Gunung Slamet, 24 Februari 2015

Penggalan narasi di atas adalah kisah nyata di ujung bumi sana. Ia tak usah ditafsirkan lagi. Hanya butuh introspeksi. Di sana, ada cerita orang tua yang tak juga mampu menunjukkan sabar. Di sana ada cerita anak suci yang selalu tahu atas setiap kesalahan yang diperbuatnya. Pagi ini mungkin pagi terpanjang untuk menunggu kalian pulang sekolah anak-anakku. Dalam hati ayah berjanji, siang ini akan ayah tunggu kalian pulang dari sekolah. Ayah telah sediakan pelukan hangat untuk kalian, sebagai untaian kata maaf. “Maaf jika ayah belum sempurna memberi pelajaran sabar untuk kalian, Ayah sayang kepada kalian.”

“…Sang Semar Pasti akan Datang…”

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Beranda

organisasi

Saya masih ingat betul, hari itu, hari Jumat saat pertama kali mengikuti kuliah Prof. Muhadjir Darwin tentang Epistemologi Ilmu Administrasi Negara.  Filsafat ilmu pengetahuan begitu nama lainnya. Pendek kuliahnya, tapi cukup membuat dahi berkerut. Penjelasan yang sederhana tetapi dalam, amat mengesankan. Hal yang rumit, ditangan beliau tampak mudah. Setelah lama mengenyam bangku kuliah, seingat saya, kuliah di hari itu amat mencerahkan dan membuat saya senang. Betul. Bahagia rasanya dapat menempuh mata kuliah ini. Sebagai penutup perjumpaan, dua buku tebal tentang Epistemology dari Sang Pengajar telah tersedia sebagai menu penutup sore itu.

Satu hal yang dapat dipelajari dalam pertemuan itu adalah bahwa di dunia ini ada dua kecenderungan manusia. Satu sisi, pihak yang menginginkan adanya kondisi yang teratur, status quo, atau order; dan di pihak lain ada yang selalu menginginkan perubahan dan revolusi, yang dapat berbentuk radical humanist dan radical structuralist. Persis seperti kondisi kita sekarang ini. Ada yang minta supaya kasus-kasus korupsi jangan dipublish agar tak mencoreng moreng nama baik institusi. Ada juga yang minta kasus-kasus itu dibuka, dijadikan bahan rujukan untuk berubah dan mendorong agar perubahan segera terwujud. Pergantian pejabat harus dilakukan guna mencapai perubahan yang diinginkan (hampir persis sama seperti logika para pengusung radical structuralist yang menginginkan perubahan pada struktur).

Saya pun teringat tentang tentang filsafat Jawa pada wayang kulit. Wayang kulit di hampir setiap sesinya juga menghadirkan banyak sekali pelajaran. Salah satunya, setelah “goro-goro” atau keadaan kacau balau akan muncul Sang Semar. Semar akan datang pada waktu yang tepat sebagai pengarah menuju kondisi tatanan perikehidupan pro-kebenaran yang baru. Bukan pada saat “order atau status quo”, tetapi pada saat “change dan chaos” itulah Sang Semar hadir. Jadi, nikmati saja kekacauan ini. Sebab siapa tahu di masa-masa ini akan ada Semar yang akan muncul sebagai pembaharu. Dan jika, tuan puan di kantor petinggi sana telah merasa menjadi Semar. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk menyapa para kawula alit, memberikan pernyataan apa yang sebenarnya terjadi, jalan apa saja yang telah ditempuh dan bagaimana para kawula alit harus bersikap. Menyitir apa yang pernah diteriakkan Iwan Fals: “Jangan hanya diam, (karena) kalian dipilih bukan dilotre”…

—catatan pagi, ditemani secangkir kopi—
Indiahono 25092014