Kembang Kebijakan

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Opini & Sitasi

Di ujung sana, gedung itu ingin menjulang menantang angkasa
Padahal asa umat inginkan sejahtera bukan gedung perkasa
Bermegah-megah layaknya istana
Dikala banyak anak bangsa di pinggir jalan terlunta
Jangan salahkan anak bangsa yang kepalkan tangan
Menantang penguasa dengan teriak di jalan
Di sudut hati mereka ingin menyemayamkan benih keberpihakan
Keberpihakan kepada orang-papa, terlunta & yang tersingkir karena kerasnya kehidupan
Mencoba menyihir kata jadikan seikat kembang
Diselipkan di buku kebijakan inginkan indah dengan penuh keharuman
Ditaruh di atas meja anggota dewan
Berharap dibawa pulang ditaruh di sudut hati hingga akhir zaman

Ajibarang Kulon, 23 April 2011

“…Tentang Perubahan…”

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Opini & Sitasi, Sistem Informasi Manajemen

STATION

Beberapa waktu terakhir saya termasuk yang agak ngeyel untuk tidak menginstall Operating System (windows 7) dan program tulis menulis (microsoft office) terbaru. Alasan saya simpel saja: pertama, saya belum punya master program (yang original?); dan kedua, jujur saja, saya sudah amat familiar dan mahir dengan OS Windows XP dan Office 2003. Ketidakpatuhan saya itu semakin menguat paska saya memperoleh program converter Office 2007 ke 2003. Sehingga kekhawatiran jika file office 2007 tidak terbaca di laptop sudah dapat ditinggalkan.

Namun belakangan, saya tergoda untuk menginstall Windows 7 dan Office 2007. Ada godaan yang kuat agar saya pun pro kepada perubahan. Perubahan itu memang kadangkala harus dipaksakan, meskipun alasan-alasan rasional yang mengikutinya dapat ditaklukkan. Iya, saya mulai belajar bahwa perubahan itu suatu keniscayaan.

Bagaimana kelanjutannya? Benar saja, dengan sedikit nekat, saya menginstalasi laptop dengan OS Windows 7 dan Office 2010 (meski takut-takut jika laptopnya tidak memenuhi spesifikasi minimal). Dua hari lebih laptop itu diobrak-abrik, mulai dari meningkatkan kecepatan booting, hingga shutting down, mengutak-atik regedit dan msconfig semuanya berjalan lancar. Jurus-jurus yang ada di Office 2010 ternyata dapat dikuasai dengan mudah, hanya dengan sedikit konsentrasi dan waktu yang tersedia. Ternyata jurus-jurus dasar di Windows XP dan Office 2003 amat berguna untuk menaklukkan para pembaharunya.

Tulisan ini, sebenarnya hendak menyatakan bahwa kadang kala perubahan itu ditakuti karena belum dilakukan. Begitu perubahan digelorakan dan menggelinding, bisa jadi perubahan itu begitu dibutuhkan dan dinikmati. Jika anda hendak merubah hidup anda ke arah yang lebih baik (dalam hal apa pun), maka lakukan saja. Niscaya di sana ada banyak kemudahan. Semoga saja, pengalaman saya dalam instal-menginstal  ini merupakan bagian dari implementasi sunnah nabi: “hari ini harus lebih baik dari pada hari kemarin”.

Kaki Gunung Slamet

Dwiyanto Indiahono

“…Jalan itu (Juga) Milik Kami…”

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Opini & Sitasi

GEAR2Dahulu setiap melintasi jalan itu, kami merasa nyaman sekali. Jalannya hotmix, tidak begitu ramai, perjalanan pun damai tidak terganggu oleh apapun. Namun nampaknya, sudah beberapa bulan ini, setiap kali melewatinya ada rasa yang tidak enak. Jalan yang semula halus (bak kulit muka yang tiada berjerawat) kini sudah dibangun ”polisi tidur”. Tingginya pun bukan kepalang. Mungkin tepatnya bukan ”polisi tidur” tapi yang tepat mungkin ”polisi jongkok (setengah berdiri)”.

Kami mungkin tidak tahu persis apa alasan ”polisi tidur” itu kini dipasang di mana-mana. Asumsi yang dapat dibangun adalah untuk mengurangi kecepatan para pengguna jalan, yang jika melewati jalan halus dan sepi itu selalu ngebut. Jika ini benar, ini bukanlah masalah sederhana. Sebab ini terkait dengan budaya percaya (trust) dan tidak percaya (distrust) kepada orang lain. Para warga yang membangun polisi tidur di jalan menyamaratakankan bahwa seluruh pengguna jalan akan selalu ngebut jika melewati jalan itu. Tidak pandang si Unyil yang baru belajar bersepeda, yang kecepatannya cuma 5 km perjam. Ia harus kerepotan sangat saat melewati jalan itu.

Para pengguna jalan pun nampaknya tak peduli kerisauan para warga yang amat geregetan dengan mereka yang ngebut dan ngotot saat berkendara. Harusnya jika sudah ada peringatan dari warga dengan memasang rambu yang setara dengan maksimal kecepatan 40 km, para pengguna jalan dengan lapang dada mengurangi kecepatannya.

Jadi dari kasus ini ada dua masalah: para warga yang tidak lagi percaya kepada pengguna jalan dan para pengguna jalan yang tidak dapat dipercaya. Masalah percaya dan tidak percaya ini bukan hanya berhenti sampai di sini. Penyakit birokrasi pun lahir karena ini: birokratnya tidak percaya kepada warga negara, dan warga negaranya tidak dapat dipercaya. Maka jadilah masalah birokrasi semakin akut. Contohnya: panjangnya pengurusan administrasi untuk KTP, dari RT, RT, Kelurahan, Kecamatan, dan BKCKB (kantor kependudukan dan catatan sipil). Ini menunjukkan ada sistem yang tidak percaya kepada administrator tingkat bawah.

Kembali kepada masalah ”polisi tidur” di jalan, masalah ini sebenarnya juga lahir karena kurangnya pemahaman publik kepada barang publik. Jalan dibangun bukan hanya untuk dimiliki oleh masyarakat di mana jalan itu di bangun. Bukan. Jalan itu milik publik, milik Anda, Mereka dan (tentu saja) milik kami. Jadi jika ada pihak-pihak yang ingin membuat ”polisi tidur” (baik telentang atau tengkurap), ”polisi jongkok”, atau ”polisi berdiri” pun harus meminta persetujuan publik – termasuk kami.

Tulisan ini hendak memberi catatan bahwa membuat ”polisi tidur” bukanlah hal yang sederhana. Ia harus memenuhi persetujuan banyak pihak, bukan hanya para warga sekitar di tempat polisi tidur itu akan dibangun, tetapi juga harus mendapat persetujuan para pengguna jalan.

Islam mengajarkan supaya umatnya menyingkirkan duri dari jalan dan hal ini merupakan shodaqoh. Substansinya adalah bahwa memperlancar perjalanan para pengguna jalan merupakan suatu tindakan yang terpuji. Apakah ”polisi tidur” termasuk hal yang menghambat perjalanan? Anda sudah tau jawabannya.

Kaki Gunung Slamet,

Dwiyanto Indiahono

Mbah Marijan (Tak Pernah Ingkar Janji)

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Opini & Sitasi

STARS007Saat banyak kalangan menyangsikan: apakah betul bangsa ini berkarakter? Mbah Marijan telah menjawabnya. Di saat banyak orang yang memiliki jabatan ingkar dengan tugasnya, Mbah Marijan telah mengajarkan arti tanggung jawab dengan baik sekali. Mbah Marijan adalah personifikasi yang unik dari abdi dalem Kraton. Saat merapi mulai nakal, siap menyembur dan melontarkan awan panas, Mbah Marijan dengan amat setia berada di sampingnya. Mungkin serupa dengan pawang ular atau harimau di dekat ular dan harimaunya. Bagi Mbah Marijan, meninggalkan Merapi sama saja meninggalkan tanggungjawab. Meninggalkan tanggung jawab adalah khianat, dan ia tak mau melakukannya. Mati dalam menjalankan tugas adalah kematian yang mulia, dan lari dari tanggung jawab adalah perbuatan nista. Sentilan ini kemudian menjalar. Jadi pejabat itu harus siap melarat, karena jabatan itu seharusnya bukan hanya bertabur kenikmatan dan kemewahan. Jabatan itu, menempel rasa prihatin dan perjuangan. Resiko asli menjadi pejabat adalah melarat bukan sebaliknya, punya rumah tingkat empat dan mobil mewah mengkilat. Bukan itu. Resiko jadi pejabat adalah siap dicegat rakyat, untuk sekedar curhat. Resiko pejabat adalah siap digugat jika khianat.

Tak usah belajar jauh-jauh dari negeri orang tentang tanggung jawab dan komitmen kepada tugas. Di sini, banyak contoh yang dapat digali, dan Mbah Marijan telah mengajarkannya untuk kita semua.

Puasa: Membebaskan Speaker Masjid dari Kerangkengnya

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Opini & Sitasi

MISC014Kasian speaker di pojok luar masjid itu. Kerangkeng besi itu setia sekali memeluknya. Membekap dan tak ingin melepasnya. Bahkan saya yakin, kerangkeng besi itu setia sekali membela speaker dari gangguan nakal sang maling.

Tak apa memang jika speaker itu harus diberi kerangkeng. Tak ada dalil yang melarang, sama sekali tak ada. Hanya saja kerangkeng speaker di pojok luar masjid itu mengisyaratkan dua hal. Hal pertama, adalah sikap tidak percaya takmir kepada pengunjung; dan kedua, pengunjung adalah pihak yang tidak bisa dipercaya. Pengurus masjid amat tak rela jika speaker tersebut harus lari digondol maling. Setiap orang harus dicurigai bakal mengambil speaker tersebut. Tak terkecuali Pak Haji yang bertopi putih – jamaah setia masjid besar itu, atau saya yang baru pertama kali datang ke situ. Ya, semua harus dicurigai. Pengurus masjid sedang berada di atas daun (naik daun) untuk menunjukkan suudzonnya kepada setiap pengunjung masjid. Nah jika keduanya berkumpul, takmir tak percaya pengunjung dan pengunjungnya juga tidak dapat dipercaya,  maka tak ayal speaker itu yang menjadi tumbalnya. Dikerangkeng besi tanpa ampun 1 x 24 jam, 7 hari dalam seminggu, tanpa waktu istirahat.

Bulan ini masih bulan ramadhan. Bulan ini mestinya bisa menyelamatkan speaker tersebut dari kerangkengnya. Puasa mendidik orang untuk bisa dipercaya, dan mendidik orang untuk mudah percaya kepada orang. Bagaimana tidak? Orang puasa itu, jangankan makan segelas teh manis di tengah hari. Meminum seteguk bahkan setetes teh manis dengan sengaja di tengah hari pun dia tak berani. Ia amat takut, jika puasanya batal dan tak berpahala. Ia amat tau diri, jika Sang Pencipta amat dekat dan senantiasa mengawasinya.

Puasa juga membuat orang mudah percaya kepada orang. Jika seorang sedang diambang waktu berbuka, ada keutamaan orang yang berpuasa untuk memberikan hidangan kepada orang yang sedang berpuasa. Bahkan pahala orang yang memberi buka puasa dinilai sama dengan nilai pahala orang yang diberinya buka puasa. Bayangkan jika seorang yang memberi buka puasa tidak percaya kepada orang yang diberinya buka puasa? Bisa-bisa tak satupun orang diberinya. Ya, sebab puasa itu amat tersembunyi. Puasa itu urusan seorang dengan Sang Pencipta. Jika seorang mengaku puasa, kewajiban si pemberi buka ya harus mempercayainya. Tak perlu si pemberi buka meminta si calon penerima buka puasa untuk tanda tangan di atas kertas bermaterai bahwa dia benar-benar puasa.

Puasa sekali lagi mengajarkan kita untuk mudah percaya kepada orang, dan dapat menjadi insan yang dapat dipercaya. Dengan dua hal ini rasanya tak sulit membebaskan kerangkeng speaker di pojok luar masjid itu. Ketika tulisan ini selesai dibuat, saya merasa speaker itu tersenyum dan ingin sekali sekali menjabat tangan saya. Namun sayang, kerangkeng itu amat kuat membekapnya. Maukah engkau turut membebaskannya?

Ajibarang, delapan september duaribusepuluh

Dwiyanto Indiahono

Most Popular Post Journal Electronic of Unair

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Opini & Sitasi

PHONEArtikel yang berjudul “Mencari Partai Politik Ber -platform Pembangunan Pedesaan” ternyata menjadi Most Popular Post Journal Electronic di Jurnal Elektronik Universitas Airlangga. Artikel ini dimuat pada Jurnal Masyarakat Kebudayaan dan Politik (MKP) Universitas Airlangga Surabaya edisi Vol. 22 No. 3 – July-2009. Jurnal MKP merupakan salah satu Jurnal Nasional Terakreditasi.  Semoga artikel tersebut dapat memberi manfaat dan dapat dijadikan rujukan bagi mahasiswa, pembelajar dan khalayak. Urutan most populer journal electronic di Unair dapat dilihat di sini, dan posting Artikel “Mencari Partai Politik Ber -platform Pembangunan Pedesaan” dapat dilihat dan diunduh di sini.

Public Policy Formulation and Public Disobedience: Conceptual Lessons from Tanah Awu People Movement

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Opini & Sitasi

MISC013Public Policy Formulation and Public Disobedience:  Conceptual Lessons from Tanah Awu People Movement

Abstract: Local government in long time has wished to build international airport in Tanah Awu – Lombok Tengah – Nusa Tenggara Barat Province. Pro and contra to this plan happened since building plan published by government. In a period of new order, some of local residents have got compensat plan in the reality was done by resident who have got compensation and haven’t got compensation. Public disobedience by farmer of Tanah Awu for international airport in their land has left many important lessons for the public policy formulation. This article will give conceptual answer for problems of public disobedience and public policy making in this case. The conceptual answers for public policy formulations are: First, public in the future have to manage aspiration better and submit the aspiration to government more democratically. Second, government have to: create dialogue rooms for public who giving criticism and input to every policy; have commitment and try create pro poor policy maximally; create policy framework that capable to give win-win solution for all stakeholders.

Keywordspublic disobedience, public policy formulation, democratic governance.

Artikel ini dimuat pada Jurnal Terakreditasi JIANA – Jurnal Ilmu Administrasi Negara, Universitas Riau Edisi Vol. 9 No. 1 Januari 2009. Bagi Mahasiswa FISIP (khususnya Jurusan Ilmu Administrasi Negara) Universitas Jenderal Soedirman, artikel ini dapat diakses di Perpustakaan Jurusan Ilmu Administrasi Negara FISIP UNSOED. Bagi mahasiswa dan khalayak lain, artikel dapat dibaca pada Jurnal Edisi Lengkap. Silahkan buka web site JIANA atau klik di sini.