Wisanggeni, Nir Adab dan Peperangan

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Opini & Sitasi

wisanggenisNamanya Wisanggeni, Wisa berarti racun, Geni berarti api, Wisanggeni berarti racun berapi. Jika menilik dari namanya sepintas, mungkin banyak yang tak percaya ia adalah anak dari Arjuna, salah seorang dari Pandawa berparas menawan. Ia betul, ia adalah anak Arjuna dan Ibu bernama Batari Dresanala/ Batari Dursanala/ Dewi Dresanala/ Dewi Dursanala. Dewi Dresanala ini adalah makhluk langit (Batari) putri Batara Brahma. Karena tak menyukai cucunya yang merupakan titisan manusia, Batara Brahma dan Batara Guru berkongsi untuk menyingkirkan Wisanggeni yang baru lahir dari kahyangan. Wisanggeni begitu lahir sebenarnya sudah hendak dilenyapkan oleh Sang Kakek dengan cara digigit. Batara Brahma mengerahkan seluruh bisa beracun dan apinya untuk melukai si jabang bayi Wisanggeni. Wisanggeni tak luka sedikitpun, dan karena telah putus asa si bayi di lempar ke lautan. Atas perlindungan Batara Narada, Wisanggeni kemudian di asuh penguasa lautan Sang Hyang Antaboga. Munculnya nama Wisanggeni pun adalah pemberian dari Batara Narada. Singkat cerita Wisanggeni tumbuh menjadi sosok yang sakti luar biasa, ia bisa terbang dan bertarung di angkasa dan di dalam bumi dengan hebat. Hingga suatu saat, Sang Hyang Antaboga menceritakan siapa ayah dan perlakuan kakeknya Batara Brahma dan Batara Guru kepadanya. Wisanggeni marah semarah-marahnya. Ia minta ijin untuk bertemu ayahnya dan mengobrak abrik kahyangan. Di Istana Pandawa, Wisanggeni berteriak mencari Arjuna sang ayah. Para Pandawa tersinggung, tak dinyana seluruh ksatria Pandawa takluk, tak terkecuali ayahnya, Arjuna. Setelah kalah, Arjuna baru mengakui bahwa Wisanggeni adalah anaknya. Wisanggeni telah puas dengan pengakuan Arjuna. Ia pun melenggang ke kahyangan. Kahyangan gaduh, di pintunya Wisanggeni berteriak memanggil-manggil Batara Guru dan Batara Brahma. Tentu saja kaum kahyangan jengkel bukan kepalang, mereka mengepalkan tangan melawan Wisanggeni. Diceritakan semua Batara yang ada di situ turun tangan untuk tanding dengan Wisanggeni, dan semuanya kalah, termasuk Batara Brahma dan Batara Guru. Di saat-saat genting itu, hadirlah Batara Narada yang menjelaskan semuanya secara rinci. Batara Brahma dan Batara Guru pun meminta maaf.

Pada saat Perang Bharatayuda tinggal menunggu waktu, Wisanggeni dan Antasena menghadap ke Sang Hyang Wenang untuk meminta restu. Wisanggeni dan Antasena di luar dugaan, tidak mendapatkan SK untuk maju berperang. Kedua orang ini dianggap akan menjadi “kemalangan” Pandawa jika ikut berperang. Wisanggeni dan Antasena menerima titah untuk berdiam diri selama perang Bharatayuda berlangsung, dan mengalami muksa (wafat suci).

Ketika membaca sosok Wisanggeni yang tidak diijinkan untuk maju berperang di Perang Bharatayuda. Ternyata di balik kesaktian dan kapandaiannya, ada satu kekurangan dari Wisanggeni ini. Wisanggeni tak memiliki unggah-ungguh, sopan santun, dan tata krama. Ia tak bisa berbahasa kromo, dan ia hanya bisa bahasa ngoko. Bahasa ngoko itu ia gunakan kepada siapapun termasuk kepada ayahnya, pamannya para pandawa hingga kaum batara dari kahyangan. Ia hanya bisa berbahasa kromo ketika berhadapan dengan Sang Hyang Wenang. Sosok yang sakti sesakti-saktinya ini tak layak maju perang hanya karena sikapnya yang nir adab. Jadi jika ada sosok yang nir adab, maka sejatinya ia tak layak mengikuti perang apapun (termasuk Pilkada). *salam.

Supir Kusir Oleng-Seoleng-Oleng

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Opini & Sitasi

india

Sepeda itu harusnya sudah melaju kencang
Meski tua, sepeda itu kutahu cukup tuk melenggang
Ah, engkau pasti mengira itu semua karena sang penunggang
Engkau tak tau sih, aku sudah berikan sorak sorai dengan kencang
Tapi, kayuhnya tetap sama, tak kencang, malah kadang belak-belok terguncang-guncang

Kami yang dibonceng belakang kadang merasa takut
Jangan-jangan sepeda ini tiba-tiba oleng
Oleng, seoleng-olengnya
Megal-megol, semegol-megolnya
Lihat saja, aku tak bisa lagi membedakan ia sedang naik sepeda atau latihan menari
Ah biarlah, ia sudah reot kempot, sekempot-kempotnya
Ia sudah lelah, selelah-lelahnya
Sebentar lagi ia pasti berhenti

Tolong carikan kami sang penunggang baru
Yang mampu memegang kendali sepeda kami selihai-lihainya
Tapi ingat jangan seperti kusir dokar kami tempo hari
Yang mampu menyalip truk tronton lewat atas kap mobil
Yang mampu menyalip truk gas elpiji di tikungan sambil berdiri
Yang mampu menyalip truk pasir lewat bawah tanah
Yang mampu menyadap telpon penyidik KPK, sambil tertawa
Yang katanya mampu berdamai dengan malaikat maut hanya dengan berkedip sebelah mata

Ah, dari pada bingung mending kami poling saja,
Sayup kudengar, engkau tak mau?
Iya, atas poling-poling itu
Katamu, poling adalah teknik primitif tak berprinsip…

Kaki Gunung Slamet, 25 Juli 2015
Dwiyanto Indiahono

Terima Kasih Gus…

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Opini & Sitasi

gus mus
Rumah kami di Rembang tak lebih dari 2 kilometer dari Pondok Pesantren Roudhotut Tholibin. Setiap Jumat pagi, kami dahulu pasti melihat ratusan santri berjalan pulang ziarah dari makam Mbah Bisri (KH. Bisri Mustofa – semoga Allah merahmatinya).  Ibu kami, hingga kini juga ikut pengajian di pondok itu setiap Selasa dan Jum’at pagi dengan berjalan kaki.  Sebagai orang yang selalu mengaku berasal dari Rembang, saya selalu bangga menyebut Mbah Mun (KH. Maemun Zubair), Mbah Cholil (KH. Cholil Bisri – semoga Allah merahmatinya), dan Gus Mus (KH. Mustofa Bisri).
Jauh hari sebelum Muktamar NU di Jombang, secara pribadi saya amat penasaran dengan peran yang bakal dimainkan oleh Mbah Mun dan Gus Mus. Seiring dengan isu AHWA, juga  karena mereka adalah panutan kami. Tentang Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA), teringat pula pesan Mbah Cholil untuk mendesain sendiri demokrasi ala Islam dan Indonesia. Musyawarah harus menjadi ruh dalam pengambilan keputusan. Ide tentang perubahan mekanisme pemilihan pimpinan tinggi NU ke arah perwakilan, semakin menguat pasca Muktamar NU di Makasar yang dianggap liberal.
Berita itu pun muncul, pertama tentang Mbah Mun yang duduk agak di belakang, duduk di urutan ketiga, dan bersemangat untuk berdiri (meskipun sudah sepuh) saat lagu Indonesia raya berkumandang. Tentang posisi duduk Mbah Mun yang “agak belakang” itu, banyak orang dan netizen komplain. Mereka menganggap panitia tak menghormati Kyai yang amat dihormati itu, kemudian mengembangkan sangkaan panitia lebih menghormati pejabat negara dari pada para ulama. Tapi saya justru mencoba menyelami bagaimana Mbah Mun, Mbah Cholil, dan Mbah Sahal (KH. Sahal Mahfudz) mengajarkan tentang makna rendah hati, andap asor, dan tak gila hormat. Mbah Mun dari sikapnya itu, sebenarnya hendak mengajarkan tentang makna rendah hati, yang memang sulit diterima oleh orang yang tinggi hati, dan gila hormat. Sering sekali Mbah Mun menunjukkan sikap insan yang tak suka ribut, apalagi soal-soal yang begituan. Beliau memang memiliki derajat berbeda. Mbah Mun hendak mengajarkan bahwa mutiara tetaplah mutiara, dimanapun ia berada.
Pasca itu, berita yang santer adalah berita tentang hiruk pikuk pleno muktamar yang sulit sekali mengambil kata sepakat tentang cara memilih pimpinan tertinggi (Rais Aam) dan Ketua Tanfidz. Saat membaca berita itu, dalam hati saya yakin akan hadirnya tokoh yang dihormati, disegani, dan petuahnya amat dipatuhi. Saat-saat seperti itu, saya teringat dengan munculnya Semar dalam pewayangan, yang akan muncul ketika goro-goro, keadaan kacau-balau, dan carut marut. Semar pun memberikan arahan ke arah perbaikan, saran dan pendapatnya solutif dan dapat diterima semua kalangan.
Dua sosok pun langsung terbayang.  Saya teringat dengan Mbah Sahal dan Gus Mus. Kepulangan Mbah Sahal ke rahmatullah memang terasa amat cepat bagi kami yang mencintainya. Gus Mus pun merasa ketiban sial untuk menjadi Rais Aam, acapkali beliau mengatakan bahwa ia tak pernah tau jika Rais Aam mangkat, maka Wakil Rais Aam yang harus menggantikan. Apalagi, ia tak pernah tahu jika Mbah Sahal akan dipanggil secepat itu. Andai saja Gus Mus tahu, jika suatu saat ia akan menggantikan Mbah Sahal, ia tak akan pernah mau mengambil jabatan itu. Rais Aam NU itu amanah yang amat sangat berat dan keramat.

Dan waktu yang dinanti itu pun tiba….

Saat suasana tak terkendali, Sang Rais Aam pun memegang mikrofon…

Raut wajah beliau menunjukkan beliau sedang lelah selelah lelahnya. Beliau sudah tak bisa tidur semalaman, memikirkan muktamar yang ada dalam tanggung jawabnya…namun ia harus tetap pegang kendali muktamar kali ini. Suaranya bergetar, bahkan menahan isak….

“Ketika saya ikuti persidangan-persidangan yang sudah lalu, saya menangis karena NU yang selama ini dicitrakan sebagai organisasi keagamaan, panutan penuh dengan akhlakul karimah, yang sering mengkritik praktik-praktik tak terpuji dari pihak lain ternyata digambarkan di media massa begitu buruknya. Saya malu kepada Allah, malu pada KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri dan para pendahulu kita. Lebih-lebih ketika saya disodori koran yang headlinenya ‘Muktamar NU Gaduh, Muktamar Muhammadiyah Teduh’.

Saya mohon sekali lagi, kita membaca surat Al-Fatihah dengan ikhlas, mohon syafaatnya (Nabi Muhammad SAW).

Rais Aam yang membikin saya menjadi punya posisi seperti ini, KH Sahal Mahfud, mengapa beliau wafat sehingga saya memikul beban ini. Saya pinjam telinga anda, doakan saya, ini terakhir saya menjabat jabatan yang tidak pantas bagi saya.

Dengarkanlah saya sebagai pemimpin tertinggi anda.

Mohon dengarkan saya, dengan hormat kalau perlu saya mencium kaki-kaki anda semua agar mengikuti akhlakul karimah, Akhlak KH Haysim Asy’ari dan pendahulu kita.

Saya panggil kiai sepuh, rata-rata mereka prihatin semua, prihatin yang sangat mendalam. Di tanah ini terbujur kiai-kiai kita, di sini NU didirikan apa kita mau meruntuhkan di sini juga, Naudzubillah, saya mohon dengan kerendahan hati Anda melepasksan semuanya, dan memikirkan Allah dan pendiri kita.

Jadi, setelah mempelajari situasi, maka para kiai yang berkumpul sampai tadi siang, di samping keprihatinan juga beberapa poin yang perlu dijadikan pedoman pembahasan selanjutnya.

Cuma sedikit yang kita sepakati untuk solusi agar tidak sama dengan di Senayan.

Pertama, apabila ada pasal yang belum disepakati dalam muktamar tentang pemilihan Rais Aam, tak bisa melalui musyawarah mufakat, maka akan dilakukan pemungutan suara oleh para Rois Syuriah

Kalau nanti Anda-Anda tidak bisa disatukan lagi, maka saya dengan para kiai memberikan solusi, kalau bisa musyawarah kalau tak bisa pemungutan suara. Itu AD/ART kita. Karena ini urusan pemilihan Rais Aam, maka kiai-kiai akan memilih pemimpin kiai.

Dan tatib yang sudah disepakati perlu segera dilakukan. Kalau ini Anda tetap tidak terima, maka saya yang terima, karena saya hanya Mustofa Bisri, saya hanya orang yang ditimpa kecelakaan menjadi pengganti Kiai Sahal. Kalau tidak, lepaskan saya saja.

Doakan mudah-mudahan saya hanya sekian saja untuk jadi Rais Aam.

Saya sejak semalam belum tidur, bukan apa-apa, karena memikirkan anda-anda sekalian. Saya mohon maaf kepada semua muktamirin terutama yang dari jauh dan tua-tua, teknis panitia yang mengecewakan anda, maafkan lah mereka, maafkan saya. Itu kesalahan saya, mudah-mudahan anda sudi memaafkan saya….”

Suasana sidang yang sebelumnya dipenuhi hirup pikuk, pada saat Gus Mus Sang Rais Aam bertutur berubah menjadi sepi-sesepi-sepinya, beberapa orang menangis, beberapa meneteskan air mata, ada yang berkaca-kaca, dan kebanyakan menunduk…

Membayangkan beliau memberikan tausiah ini, air mata saya pun jatuh. Kekuatan ruhiyah yang luar biasa. Tutur bahasa yang santun yang mampu menembus dada-dada yang sedang bergejolak. Mendinginkan dada-dada yang panas. Menenangkan gejolak amarah yang meronta-ronta. Mengingatkan kembali tentang Allah dan Rasul-Nya. Mengajak kembali kepada persatuan dan bukan pada ambisi picisan.

Tausiyah itu seperti dirijen paduan suara. Semua suara seakan tunduk di ujung tongkatnya. Semuanya tak mampu menolak ajakannya, untuk kembali taat kepada pimpinan tertinggi. Semuanya tunduk terpekur mengakui kesalahan-kesalahan sendiri tanpa harus dicaci. Ia hanya ungkapkan maaf, tanpa mau mencari kambing hitam atau putih. Ia ambil segala resiko caci maki atas segala kejadian yang terjadi. Ia mohonkan maaf, untuk mendapatkan semua ridho di hati. Ia memang pantas menjadi Rais Aam. Terima kasih Gus, telah mengajarkan kami tentang makna menjadi pemimpin sejati…

…bila kuasa selalu dusta…

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Opini & Sitasi

bila

…bila kuasa selalu dusta…

kemarin kau bilang putih
kini kau bilang merah
kemarin kau bilang jingga
kini kau bilang merah muda

kemarin kau bilang cukup sekali
kini kau ingin jadi yang kedua kali
kemarin kau bilang kami penting sekali
kini kau bilang kami tiada arti

kemarin kau bilang bisa membela kami
kini kau bilang saya tak peduli
kemarin kau bilang jabatan adalah amanah
kini kau rampas hak kami dengan amarah

kemarin kau bilang akan sehatkan kami
kini kami yang sedang sakit lelah menunggu mati
kemarin kau bilang akan lebarkan jalan
kini kau bilang tak ada anggaran

kemarin kau bilang akan sejahterakan kami
kini kau beli barang mewah untuk harga diri
kemarin kau bilang rela mati untuk kami
kini kau persilahkan kami menuju mati

kemarin kau bilang tak akan ada korupsi
kini kau mulai mencari celah bak pencuri
kemarin kau bilang tak akan kolusi
kini pejabat tuan dari keluarga dan kroni

kemarin kau bilang akan hancurkan angkara
kini kau murka bila kami ajak bicara
kemarin pelangi itu setia di sisi kami
kini entah kemana pergi tak ada di sini

kemarin masih ada jabat tangan
kini yang ada hanya kemurkaan
pukullah pipiku, tak usah sedih kawan
mungkin aku sedang mimpi kesiangan…

Dwiyanto Indiahono
Kaki Gunung Slamet, 10-02-2015

Dekaderisasi Parpol dan Politikus Kutu Loncat

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Opini & Sitasi

 

KONFLIK politik yang mengiringi arena pemilukada di tingkat lokal Banyumas menunjukkan adanya gelagat pembelotan sejumlah kader partai politik dari gerbong asalnya. Pada level nasional, konflik internal di Partai Nasdem dengan mundurnya Ketua Dewan Pakar telah menunjukkan dinamika partai politik di Indonesia yang tidak lepas dari konflik internal.

Dekaderisasi Parpol
Masalah yang cukup rumit yang terjadi pada partai politik di Indonesia adalah tidak adanya konsep kaderisasi yang jelas di partai politik. Hal ini bukanlah hal yang mudah untuk diungkap secara kasat mata. Mengungkap minimnya kaderisasi partai politik, sama saja mengkritik kaum mapan (elite) partai yang tidak ingin membagi kekuasaan.

lebih lengkap baca di sini atau di satelitnews

“Setapak Jembatan, Surga untuk Kami”

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Opini & Sitasi

Bila mentari bersinar, mereka kepalkan tangan
Tak congkak, pun tak pernah keluhkan segala kejadian
Dalam hati, mereka selalu berkata: “hidup adalah tantangan”
Mengeluh takkan rubah keadaan

Duhai pemimpin yang ada di gedung dewan atau birokrat yang ada di kantoran
Kami di sini mengetuk pintu maut setiap hari demi laju masa depan
Tiadakah engkau peduli atas rakyat yang berkhayal dapatkan impian
Impian kami cukup sederhana: “ada jembatan setapak yang aman”

Itu sangat cukup membuat kami memiliki surga di setiap pagi
Kami tak perlukan kantormu selalu wangi
Apalagi gedung mewah bak negeri bidadari
Atau toilet seharga 5 gedung sekolah di daerah kami

Kami hanya bermimpi jika ada jembatan surga di setiap pagi kami…

Kaki Gunung Slamet
Indiahono
24/01/2012

 

Artikel Terpopuler di Journal Electronic of Unair

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Administrasi Pembangunan Desa Terpadu, Opini & Sitasi

 

Alhamdulillah, artikel yang berjudul “Mencari Partai Politik Ber -platform Pembangunan Pedesaan” masih menjadi Most Popular Post Journal Electronic di Jurnal Elektronik Universitas Airlangga (September 2010-Nopember 2011). Artikel ini dimuat pada Jurnal Masyarakat Kebudayaan dan Politik (MKP) Universitas Airlangga Surabaya edisi Vol. 22 No. 3 – July-2009. Jurnal MKP merupakan salah satu Jurnal Nasional Terakreditasi.  Semoga artikel tersebut dapat memberi manfaat dan dapat dijadikan rujukan bagi mahasiswa, pembelajar dan khalayak. Urutan most populer journal electronic di Unair dapat dilihat di sini, dan posting Abstract Artikel “Mencari Partai Politik Ber -platform Pembangunan Pedesaan” dapat dilihat di sini dan artikel lengkap dapat diunduh di sini.