Kesetiaan itu Seperti Asap

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Opini & Sitasi

kumbakarna-dan-wibisana

Filsafat Jawa menggambarkan kesetiaan itu sulit untuk dimengerti.

Ada Wibisana yang rela menyeberang ke Kubu Rama, karena menganggap Sang Kakak Rahwana telah berbuat dzalim kepada Sinta-Rama. Ia dianggap setia dengan kebenaran dan keadilan. Di sisi lain, ada cerita Kumbakarna – kakak Wibisana – yang  kokoh tegak berdiri di samping Rahwana karena merasa ada panggilan setia kepada negara. Kisah ini semakin mengharu biru saat Kumbakarna sedang sakaratul maut karena kalah adu tanding dengan Rama…

Mata Kumbakarna tetap memerah, keringat, dan darah mengalir deras dari tubuhnya. Nafasnya mulai tersengal. Sang Adik Wibisana, bersimpuh di sisinya. Dibelainya wajah sang kakak penuh cinta. Hatinya memberi sinyal, inilah waktu terakhir bersama Sang Kakak.

“Duhai Adikku, usah kau bersedih tentang nasibku. Ini semua telah menjadi takdirku. Janganlah kematianku membuatmu ragu atas keputusanmu membela Rama musuhku. Sungguh berpisah denganmu dalam perang ini adalah duka terbesarku. Kepada Rama, kutitipkan dirimu…”

Wibisana hanya bisa mengalirkan air mata di wajah. Dan setiap bulir-bulir air itu mengalir pastilah ada usapan Kumbakarna.
Medan laga seakan mendung berat mengiring ruh Kumbakarna lepas dari tubuhnya.

Sang Rama hanya bisa tertunduk, ia perintahkan perang berhenti barang sejenak. Penghormatan kepada Kumbakarna mungkin akan dikenal dan tak dimengerti secara hakiki…

Kesetiaan itu seperti asap, ia ada tapi tak mudah ditangkap. Sama seperti wajah politik pilkada saat ini. Ia seperti asap. Terlihat, terasa, tapi tak mudah dipahami. Tetapi satu yang aku yakini, kesetiaan itu akan mendapat apresiasi tinggi: meskipun seseorang itu harus terhempas dan… mati.

 

Pasir Kidul 07/01/2017