Supir Kusir Oleng-Seoleng-Oleng

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Opini & Sitasi

india

Sepeda itu harusnya sudah melaju kencang
Meski tua, sepeda itu kutahu cukup tuk melenggang
Ah, engkau pasti mengira itu semua karena sang penunggang
Engkau tak tau sih, aku sudah berikan sorak sorai dengan kencang
Tapi, kayuhnya tetap sama, tak kencang, malah kadang belak-belok terguncang-guncang

Kami yang dibonceng belakang kadang merasa takut
Jangan-jangan sepeda ini tiba-tiba oleng
Oleng, seoleng-olengnya
Megal-megol, semegol-megolnya
Lihat saja, aku tak bisa lagi membedakan ia sedang naik sepeda atau latihan menari
Ah biarlah, ia sudah reot kempot, sekempot-kempotnya
Ia sudah lelah, selelah-lelahnya
Sebentar lagi ia pasti berhenti

Tolong carikan kami sang penunggang baru
Yang mampu memegang kendali sepeda kami selihai-lihainya
Tapi ingat jangan seperti kusir dokar kami tempo hari
Yang mampu menyalip truk tronton lewat atas kap mobil
Yang mampu menyalip truk gas elpiji di tikungan sambil berdiri
Yang mampu menyalip truk pasir lewat bawah tanah
Yang mampu menyadap telpon penyidik KPK, sambil tertawa
Yang katanya mampu berdamai dengan malaikat maut hanya dengan berkedip sebelah mata

Ah, dari pada bingung mending kami poling saja,
Sayup kudengar, engkau tak mau?
Iya, atas poling-poling itu
Katamu, poling adalah teknik primitif tak berprinsip…

Kaki Gunung Slamet, 25 Juli 2015
Dwiyanto Indiahono