Karat Pintu Istana

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Beranda

india
Pintu istana telah berkarat
Ditiup angin genit yang berhembus di sebilah sedotan

Harusnya kau tak berkarat
Bukankah engkau kayu rendaman

Direndam dalam rindu tak berkesudahan
Direndam dalam cinta setinggi cita

Kau tetap berkarat
Dalam asa yang remuk redam

Kaki Gunung Slamet,
Dwiyanto Indiahono 01-08-2016

Petir Baladewa

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Beranda

india

Baladewa berdiri di tengah raja dan pejabat teras Hastina
Hatinya bergemuruh murka
Dipandanginya satu persatu para kesatria
Sang raja Duryodana pun tak sanggup menatap matanya

Matanya merah semerah-merahnya
Kepal tangannya keras sekeras-kerasnya
Andaikan di depannya ada besi baja
Besi itu pun lumer karna marahnya

Kakanda Duryodana dan para kesatria
Inikah jalan yang sengaja kalian cipta
Menabuh genderang perang dengan suka cita
Merampas, merampok kerajaan dari Pandawa

Kudengar hati kalian bersorak dengan perang ini
Padahal di sana, para prajurit ingin lari dari perang suci
Tak ada anak yang ingin kehilangan ayahnya
Tak ada ibu yang ingin kehilangan anaknya
Kalian memang penipu digdaya
Hukum bisa kau lipat, seakan-akan kau memang selalu benar adanya
Tidak saudaraku, semua orang telah melihat kasat mata
Apa yang kalian lakukan itu kebenaran yang fata morgana

Duryodana hanya bisa menatap tajam pedang dan seragam perangnya
Ingin rasanya ia mendebat habis adiknya
Namun ia tak kuasa
Amarah Baladewa yang meledak bagai beban berat yang buat dia tak mampu bersuara

Baladewa menyingsingkan baju bawahnya
Derap langkah itu tegas meninggalkan istana Hastina
Para ksatria hanya mampu mengiring kepergiannya dengan lirikan mata
Tak berani ujung mata mereka bertemu sekecil saja bagian mata Baladewa

Empat hari telah berlalu
Baratayuda tetap menunggu

Di tempat Pandawa, Baladewa berdiri sama
Sama saat ia berdiri di depan para Kurawa
Sorot matanya tetap tajam setajam-tajamnya
Matanya tetap merah semerah-merahnya

Saudaraku Pandawa, engkau tahu
Adikku adalah istri Arjuna
Kakakku adalah istri Duryodana
Anak-anak yang lahir dari mereka adalah keponakanku, keponakan kalian semua

Aku tetap menolak perang ini
Aku tetap membenci perang yang kalian bilang suci
Bukan karena kalian adalah saudara-saudaraku
Bukan karena kalian adalah darah dagingku

Di Istana Duryodana dan sekutunya aku telah sampaikan
Bahwa mereka itu perampok ulung yang ketahuan
Tetapi di sini, aku juga membenci kalian
Di sini, ada gunung haus yang puncaknya bernama rakus kekuasaan

Kalian Pandawa, bukankah telah dinisbatkan sebagai pembela keadilan, kebaikan dan kebenaran
Tetapi kenapa kalian tak cukup dengan kerajaan-kerajaan yang telah ada di tangan
Tak cukupkah itu semua?
Kurangkah itu semua?
Jangan-jangan orang-orang itu telah salah menilai kalian

Jika kalian masih kurang berkuasa
Kalian bisa datang dan ambil sebagian kerajaanku di Manthura
Atau kalian bisa datang dan ambil sebagian kerajaan milik Sri Kresna
Semua bisa kalian dapatkan dengan percuma tanpa angkat senjata

Mereka Kurawa memang keliru, tetapi kekeliruan mereka pun bagian dari kekeliruan masa lalu
Setiap kita punya andil dalam setiap kekeliruan orang lain saudaraku
Entahlah, mungkin aku ini yang keliru
Tetapi, satu keyakinanku, menolak perang ini adalah kebenaranku

Baladewa menggenggam tangan erat seerat-eratnya
Ditatapnya langit yang mulai ciut dengan tatapannya
Dihentakkan langkah pertamanya
Ditinggalkan istana Pandawa dengan banyak tanda tanya

Baladewa dan bala tentaranya menyingkir dari peperangan
Baladewa menyepi dan tinggal di pinggiran
Tak ingin ia mendengar update peperangan
Ditutup telinganya, tak mau dengar siapa yang kalah dan bermandi kemenangan

Kaki Gunung Slamet 31-07-2016 07:22 WIB