Arjuna di Simpang Jalan…

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Beranda

india

Arjuna menatap tajam hamparan tanah lapang di depannya
Ia tak pernah membayangkan jika esok hari ia harus bertaruh nyawa di medan laga
Ia sempat ciut, bukan untuk perang dan kekalahan
tetapi untuk saudara, korban dan kemanusiaan

Kepal tangannya mulai melemah direnggangkan
Hati kecilnya berkata, usahlah perang dilangsungkan
Cukuplah kerajaan kecilnya jadi surga
Tak usah menuntut kerajaan besar jika harus ditebus dengan ribuan nyawa

Sri Kresna di kemah perang mulai gelisah merana
Arjuna Sang Patih tiada di tempatnya
Padahal strategi perang harus siap sedia
Tanpa cacat untuk kemenangan nyata

Kereta kuda kencana miliknya dikebut sebisanya
Secepat kilat secepat cahaya
Kresna tau di mana ia dapat menemukan Arjuna
Di suatu tempat di dekat medan laga

Dari kejauhan kepulan debu itu menggambarkan siapa yang akan menghampirinya
Arjuna tetap menatap tajam hamparan tanah lapang di depannya
Kresna datang dalam diam seribu bahasa
Turut memandang medan laga dengan sorot tajam setajam-tajamnya

Arjuna, aku tahu apa yang sedang kau rasa
Selepas berkata, sepi dan debu yang beterbangan semakin terasa
Jika Tuan sudah tahu, tiadalah guna Tuan di sini bersama Arjuna
Hamba sudah berketetapan, esok hari Arjuna tidak ada di medan laga

Arjuna, kehidupan itu bukan semata-mata tentang kerajaan dan kekuasaan
Ia juga harus diwarnai dengan perjuangan menegakkan keadilan dan kebenaran
Jika saja engkau tak maju perang di esok hari
Itu takkan mengubah apapun tentang perang ini

Ini bukan hanya tentang keberanian
Perang ini juga akan menunjukkan kesetiaan
Kesetiaan kepada keadilan dan kebenaran
Kesetiaan kesatria kepada janji prajurit dan persaudaraan

Tak mengapa engkau tinggalkan saudara-saudaramu dalam perang ini
Tak mengapa engkau hanya peduli kerajaan kecilmu yang kau anggap abadi
Tapi ingat, jika engkau lari dari perang ini
Di manakah wajahmu di catatan sejarah kepahlawanan
Di manakah mukamu di catatan kesatria pembela keadilan, kebenaran dan persaudaraan
Kresna memandangi wajah Arjuna yang mulai kemerahan
Pertanda api semangat perang kembali bisa dikobarkan

Tuan Kresna, Tuan memang pandai memainkan hati hamba
Tapi Tuan, jika saja Arjuna mengangkat senjata dalam laga
Berjanjilah tak kan ada lagi genderang perang
Berjanjilah tak kan ada lagi kedholiman

Arjuna, Aku tak berani berjanji apakah esok hari tiada lagi perang
Yang aku tahu, di setiap masa yang kelam akan ada benderang
Tabir kelam kadang hanya bisa dibuka dengan perang
Usahlah kau bimbang, sebab sang malam akan selalu setia dengan sang siang

Kaki Gunung Slamet, 29-07-2016 10:18 WIB