Terima Kasih Gus…

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Opini & Sitasi

gus mus
Rumah kami di Rembang tak lebih dari 2 kilometer dari Pondok Pesantren Roudhotut Tholibin. Setiap Jumat pagi, kami dahulu pasti melihat ratusan santri berjalan pulang ziarah dari makam Mbah Bisri (KH. Bisri Mustofa – semoga Allah merahmatinya).  Ibu kami, hingga kini juga ikut pengajian di pondok itu setiap Selasa dan Jum’at pagi dengan berjalan kaki.  Sebagai orang yang selalu mengaku berasal dari Rembang, saya selalu bangga menyebut Mbah Mun (KH. Maemun Zubair), Mbah Cholil (KH. Cholil Bisri – semoga Allah merahmatinya), dan Gus Mus (KH. Mustofa Bisri).
Jauh hari sebelum Muktamar NU di Jombang, secara pribadi saya amat penasaran dengan peran yang bakal dimainkan oleh Mbah Mun dan Gus Mus. Seiring dengan isu AHWA, juga  karena mereka adalah panutan kami. Tentang Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA), teringat pula pesan Mbah Cholil untuk mendesain sendiri demokrasi ala Islam dan Indonesia. Musyawarah harus menjadi ruh dalam pengambilan keputusan. Ide tentang perubahan mekanisme pemilihan pimpinan tinggi NU ke arah perwakilan, semakin menguat pasca Muktamar NU di Makasar yang dianggap liberal.
Berita itu pun muncul, pertama tentang Mbah Mun yang duduk agak di belakang, duduk di urutan ketiga, dan bersemangat untuk berdiri (meskipun sudah sepuh) saat lagu Indonesia raya berkumandang. Tentang posisi duduk Mbah Mun yang “agak belakang” itu, banyak orang dan netizen komplain. Mereka menganggap panitia tak menghormati Kyai yang amat dihormati itu, kemudian mengembangkan sangkaan panitia lebih menghormati pejabat negara dari pada para ulama. Tapi saya justru mencoba menyelami bagaimana Mbah Mun, Mbah Cholil, dan Mbah Sahal (KH. Sahal Mahfudz) mengajarkan tentang makna rendah hati, andap asor, dan tak gila hormat. Mbah Mun dari sikapnya itu, sebenarnya hendak mengajarkan tentang makna rendah hati, yang memang sulit diterima oleh orang yang tinggi hati, dan gila hormat. Sering sekali Mbah Mun menunjukkan sikap insan yang tak suka ribut, apalagi soal-soal yang begituan. Beliau memang memiliki derajat berbeda. Mbah Mun hendak mengajarkan bahwa mutiara tetaplah mutiara, dimanapun ia berada.
Pasca itu, berita yang santer adalah berita tentang hiruk pikuk pleno muktamar yang sulit sekali mengambil kata sepakat tentang cara memilih pimpinan tertinggi (Rais Aam) dan Ketua Tanfidz. Saat membaca berita itu, dalam hati saya yakin akan hadirnya tokoh yang dihormati, disegani, dan petuahnya amat dipatuhi. Saat-saat seperti itu, saya teringat dengan munculnya Semar dalam pewayangan, yang akan muncul ketika goro-goro, keadaan kacau-balau, dan carut marut. Semar pun memberikan arahan ke arah perbaikan, saran dan pendapatnya solutif dan dapat diterima semua kalangan.
Dua sosok pun langsung terbayang.  Saya teringat dengan Mbah Sahal dan Gus Mus. Kepulangan Mbah Sahal ke rahmatullah memang terasa amat cepat bagi kami yang mencintainya. Gus Mus pun merasa ketiban sial untuk menjadi Rais Aam, acapkali beliau mengatakan bahwa ia tak pernah tau jika Rais Aam mangkat, maka Wakil Rais Aam yang harus menggantikan. Apalagi, ia tak pernah tahu jika Mbah Sahal akan dipanggil secepat itu. Andai saja Gus Mus tahu, jika suatu saat ia akan menggantikan Mbah Sahal, ia tak akan pernah mau mengambil jabatan itu. Rais Aam NU itu amanah yang amat sangat berat dan keramat.

Dan waktu yang dinanti itu pun tiba….

Saat suasana tak terkendali, Sang Rais Aam pun memegang mikrofon…

Raut wajah beliau menunjukkan beliau sedang lelah selelah lelahnya. Beliau sudah tak bisa tidur semalaman, memikirkan muktamar yang ada dalam tanggung jawabnya…namun ia harus tetap pegang kendali muktamar kali ini. Suaranya bergetar, bahkan menahan isak….

“Ketika saya ikuti persidangan-persidangan yang sudah lalu, saya menangis karena NU yang selama ini dicitrakan sebagai organisasi keagamaan, panutan penuh dengan akhlakul karimah, yang sering mengkritik praktik-praktik tak terpuji dari pihak lain ternyata digambarkan di media massa begitu buruknya. Saya malu kepada Allah, malu pada KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri dan para pendahulu kita. Lebih-lebih ketika saya disodori koran yang headlinenya ‘Muktamar NU Gaduh, Muktamar Muhammadiyah Teduh’.

Saya mohon sekali lagi, kita membaca surat Al-Fatihah dengan ikhlas, mohon syafaatnya (Nabi Muhammad SAW).

Rais Aam yang membikin saya menjadi punya posisi seperti ini, KH Sahal Mahfud, mengapa beliau wafat sehingga saya memikul beban ini. Saya pinjam telinga anda, doakan saya, ini terakhir saya menjabat jabatan yang tidak pantas bagi saya.

Dengarkanlah saya sebagai pemimpin tertinggi anda.

Mohon dengarkan saya, dengan hormat kalau perlu saya mencium kaki-kaki anda semua agar mengikuti akhlakul karimah, Akhlak KH Haysim Asy’ari dan pendahulu kita.

Saya panggil kiai sepuh, rata-rata mereka prihatin semua, prihatin yang sangat mendalam. Di tanah ini terbujur kiai-kiai kita, di sini NU didirikan apa kita mau meruntuhkan di sini juga, Naudzubillah, saya mohon dengan kerendahan hati Anda melepasksan semuanya, dan memikirkan Allah dan pendiri kita.

Jadi, setelah mempelajari situasi, maka para kiai yang berkumpul sampai tadi siang, di samping keprihatinan juga beberapa poin yang perlu dijadikan pedoman pembahasan selanjutnya.

Cuma sedikit yang kita sepakati untuk solusi agar tidak sama dengan di Senayan.

Pertama, apabila ada pasal yang belum disepakati dalam muktamar tentang pemilihan Rais Aam, tak bisa melalui musyawarah mufakat, maka akan dilakukan pemungutan suara oleh para Rois Syuriah

Kalau nanti Anda-Anda tidak bisa disatukan lagi, maka saya dengan para kiai memberikan solusi, kalau bisa musyawarah kalau tak bisa pemungutan suara. Itu AD/ART kita. Karena ini urusan pemilihan Rais Aam, maka kiai-kiai akan memilih pemimpin kiai.

Dan tatib yang sudah disepakati perlu segera dilakukan. Kalau ini Anda tetap tidak terima, maka saya yang terima, karena saya hanya Mustofa Bisri, saya hanya orang yang ditimpa kecelakaan menjadi pengganti Kiai Sahal. Kalau tidak, lepaskan saya saja.

Doakan mudah-mudahan saya hanya sekian saja untuk jadi Rais Aam.

Saya sejak semalam belum tidur, bukan apa-apa, karena memikirkan anda-anda sekalian. Saya mohon maaf kepada semua muktamirin terutama yang dari jauh dan tua-tua, teknis panitia yang mengecewakan anda, maafkan lah mereka, maafkan saya. Itu kesalahan saya, mudah-mudahan anda sudi memaafkan saya….”

Suasana sidang yang sebelumnya dipenuhi hirup pikuk, pada saat Gus Mus Sang Rais Aam bertutur berubah menjadi sepi-sesepi-sepinya, beberapa orang menangis, beberapa meneteskan air mata, ada yang berkaca-kaca, dan kebanyakan menunduk…

Membayangkan beliau memberikan tausiah ini, air mata saya pun jatuh. Kekuatan ruhiyah yang luar biasa. Tutur bahasa yang santun yang mampu menembus dada-dada yang sedang bergejolak. Mendinginkan dada-dada yang panas. Menenangkan gejolak amarah yang meronta-ronta. Mengingatkan kembali tentang Allah dan Rasul-Nya. Mengajak kembali kepada persatuan dan bukan pada ambisi picisan.

Tausiyah itu seperti dirijen paduan suara. Semua suara seakan tunduk di ujung tongkatnya. Semuanya tak mampu menolak ajakannya, untuk kembali taat kepada pimpinan tertinggi. Semuanya tunduk terpekur mengakui kesalahan-kesalahan sendiri tanpa harus dicaci. Ia hanya ungkapkan maaf, tanpa mau mencari kambing hitam atau putih. Ia ambil segala resiko caci maki atas segala kejadian yang terjadi. Ia mohonkan maaf, untuk mendapatkan semua ridho di hati. Ia memang pantas menjadi Rais Aam. Terima kasih Gus, telah mengajarkan kami tentang makna menjadi pemimpin sejati…