—belajar menjadi orang tua—

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Beranda

pesanku2

—semoga engkau bahagia di sana ananda—

anak sekecil itu kepalanya berdarah
diayun bambu ayahnya yang sudah dibakar amarah
anak tetaplah anak, setelah mencuci muka karena berdarah ia hampiri sang ayah
ia sodorkan tangan untuk pinta maaf dari ayahnya
diciumnya tangan sang ayah dengan penuh sukma
lama nian tangan itu ada di genggamannya
tak beringsut hingga sang ayah menarik tangannya
ayah yang sudah terlanjur marah baru terperanjat
meski sudah dibasuh, ada bercak darah di wajah anaknya
dibelainya wajah sang anak, binar mata sang anak bertemu kedua bola matanya
ada senyum bercampur sakit di sela darah yang pelan mengalir
darah itu makin keras, dan deras
anak itu terhuyung di depan sang ayah
dipeluk erat dan kepanikan mulai merambat
dibalutkan kain di kepala sang anak, agar darah berhenti mengalir
namun darah enggan mengerti, dan ia terus saja mengalir
dipeluknya erat sang anak, diboyong dan dibawanya lari
ia berteriak, “toloong…toloong anak saya”
namun semua terlambat
nafas mulai tersengal
dipelukan sang ayah, anak itu menemui pemilik aslinya…

Lereng Gunung Slamet, 24 Februari 2015

Penggalan narasi di atas adalah kisah nyata di ujung bumi sana. Ia tak usah ditafsirkan lagi. Hanya butuh introspeksi. Di sana, ada cerita orang tua yang tak juga mampu menunjukkan sabar. Di sana ada cerita anak suci yang selalu tahu atas setiap kesalahan yang diperbuatnya. Pagi ini mungkin pagi terpanjang untuk menunggu kalian pulang sekolah anak-anakku. Dalam hati ayah berjanji, siang ini akan ayah tunggu kalian pulang dari sekolah. Ayah telah sediakan pelukan hangat untuk kalian, sebagai untaian kata maaf. “Maaf jika ayah belum sempurna memberi pelajaran sabar untuk kalian, Ayah sayang kepada kalian.”

…bila kuasa selalu dusta…

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Opini & Sitasi

bila

…bila kuasa selalu dusta…

kemarin kau bilang putih
kini kau bilang merah
kemarin kau bilang jingga
kini kau bilang merah muda

kemarin kau bilang cukup sekali
kini kau ingin jadi yang kedua kali
kemarin kau bilang kami penting sekali
kini kau bilang kami tiada arti

kemarin kau bilang bisa membela kami
kini kau bilang saya tak peduli
kemarin kau bilang jabatan adalah amanah
kini kau rampas hak kami dengan amarah

kemarin kau bilang akan sehatkan kami
kini kami yang sedang sakit lelah menunggu mati
kemarin kau bilang akan lebarkan jalan
kini kau bilang tak ada anggaran

kemarin kau bilang akan sejahterakan kami
kini kau beli barang mewah untuk harga diri
kemarin kau bilang rela mati untuk kami
kini kau persilahkan kami menuju mati

kemarin kau bilang tak akan ada korupsi
kini kau mulai mencari celah bak pencuri
kemarin kau bilang tak akan kolusi
kini pejabat tuan dari keluarga dan kroni

kemarin kau bilang akan hancurkan angkara
kini kau murka bila kami ajak bicara
kemarin pelangi itu setia di sisi kami
kini entah kemana pergi tak ada di sini

kemarin masih ada jabat tangan
kini yang ada hanya kemurkaan
pukullah pipiku, tak usah sedih kawan
mungkin aku sedang mimpi kesiangan…

Dwiyanto Indiahono
Kaki Gunung Slamet, 10-02-2015