“…Sang Semar Pasti akan Datang…”

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Beranda

organisasi

Saya masih ingat betul, hari itu, hari Jumat saat pertama kali mengikuti kuliah Prof. Muhadjir Darwin tentang Epistemologi Ilmu Administrasi Negara.  Filsafat ilmu pengetahuan begitu nama lainnya. Pendek kuliahnya, tapi cukup membuat dahi berkerut. Penjelasan yang sederhana tetapi dalam, amat mengesankan. Hal yang rumit, ditangan beliau tampak mudah. Setelah lama mengenyam bangku kuliah, seingat saya, kuliah di hari itu amat mencerahkan dan membuat saya senang. Betul. Bahagia rasanya dapat menempuh mata kuliah ini. Sebagai penutup perjumpaan, dua buku tebal tentang Epistemology dari Sang Pengajar telah tersedia sebagai menu penutup sore itu.

Satu hal yang dapat dipelajari dalam pertemuan itu adalah bahwa di dunia ini ada dua kecenderungan manusia. Satu sisi, pihak yang menginginkan adanya kondisi yang teratur, status quo, atau order; dan di pihak lain ada yang selalu menginginkan perubahan dan revolusi, yang dapat berbentuk radical humanist dan radical structuralist. Persis seperti kondisi kita sekarang ini. Ada yang minta supaya kasus-kasus korupsi jangan dipublish agar tak mencoreng moreng nama baik institusi. Ada juga yang minta kasus-kasus itu dibuka, dijadikan bahan rujukan untuk berubah dan mendorong agar perubahan segera terwujud. Pergantian pejabat harus dilakukan guna mencapai perubahan yang diinginkan (hampir persis sama seperti logika para pengusung radical structuralist yang menginginkan perubahan pada struktur).

Saya pun teringat tentang tentang filsafat Jawa pada wayang kulit. Wayang kulit di hampir setiap sesinya juga menghadirkan banyak sekali pelajaran. Salah satunya, setelah “goro-goro” atau keadaan kacau balau akan muncul Sang Semar. Semar akan datang pada waktu yang tepat sebagai pengarah menuju kondisi tatanan perikehidupan pro-kebenaran yang baru. Bukan pada saat “order atau status quo”, tetapi pada saat “change dan chaos” itulah Sang Semar hadir. Jadi, nikmati saja kekacauan ini. Sebab siapa tahu di masa-masa ini akan ada Semar yang akan muncul sebagai pembaharu. Dan jika, tuan puan di kantor petinggi sana telah merasa menjadi Semar. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk menyapa para kawula alit, memberikan pernyataan apa yang sebenarnya terjadi, jalan apa saja yang telah ditempuh dan bagaimana para kawula alit harus bersikap. Menyitir apa yang pernah diteriakkan Iwan Fals: “Jangan hanya diam, (karena) kalian dipilih bukan dilotre”…

—catatan pagi, ditemani secangkir kopi—
Indiahono 25092014

“…Kampus ini, Kampus Kebenaran…”

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Beranda

pembicara orator

berperi rasa baca berita
tuan cendekia terlibat nista
uang rakyat ditilep juga

tiadakah tuan berkaca
dulu tuan juga jelata
berasal dari bayi tiada harta

kini tuan mulai rasakan penjara
teman-teman juga berduka
apakah ini bukan duka terbesar kita?
tuan puan sedih karna koruptor itu teman kita
bukan berarti koruptor tak harus bertemu hakim ketua

jika tuan puan yakin ia tiada bersalah juga
kepal tangan ini selalu ada untuknya
tapi jika ia salah, tiada guna membela
yakinlah hukum kan membuat kita tegak membela dunia

—kami di sini, melawan korupsi juga…—

indiahono, kaki gunung slamet
24092014

Hari ini dunia kampus kembali dihebohkan dengan berita tentang babak baru penyelidikan kasus korupsi di Kampus “Slamet”-Kampus Unsoed. Banyak dosen yang merasa sedih, terpukul, kaget dan berbagai rasa lain yang mungkin agak aneh untuk diceritakan. Kampus harus jadi benteng gerakan anti korupsi, kampus memang harus menjadi contoh untuk gerakan perubahan ini. Tak pelak lagi, jika ada kasus korupsi di kampus, maka tak perlu sedih tak perlu ada duka.

Duka kita hanyalah kepada orang-orang yang telah salah jalan itu, dan berdo’a semoga segera kembali ke jalan yang benar. Jika ia harus diperiksa, diadili dan dipenjara karena memang terbukti bersalah, maka sebagai pembela gerakan anti korupsi Kampus harus tetap tegar, tegas dan jelas mengatakan: “beri sanksi sesuai kaidah hukum sejati”.

Jadi terungkapnya kasus korupsi bukanlah aib, yang aib itu jika ada orang berbuat maksiat (korupsi) dilindungi dan diam untuk tidak melakukan hal apapun untuk memperbaikinya. Banggalah karena kampus kita telah berani melakukan pembersihan, biarlah hukum yang akan memproses kebenaran berdasar fakta yang diungkap tanpa rekayasa. Senyumlah, karena kita tetap berada di garda depan pembela kebenaran.

—Kampus ini akan tetap tegar membela kebenaran—