Hak Pemilu Kami…

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Beranda

bila

Pilihan untuk memilih atau tidak memilih adalah hak. Betul, ia adalah hak. Jadi tak perlu urat leher tegang untuk berdebat. Orang yang golput menyatakan dengan suara lantang kamilah pejuang hati nurani sejati, benteng terakhir pejuang kemerdekaan dan anti kemapanan. Orang yang dikubu tidak golput menyatakan dengan tak kalah keras, orang-orang golput itu tidak pro kepada perubahan – musuh masa depan, kamilah pejuang masa depan, sang tauladan sepanjang zaman.

Tak bisa begitu saudara, memilih atau tidak memilih adalah hak.  Sama seperti Anda punya hak meminum air putih, air susu, kopi, susu atau coklat. Ia adalah style seseorang untuk mendefinisikan kebahagiaan dan kenikmatan. Anda penggemar kopi? Tak bisa anda katakan bahwa kopi lebih lezat dari yang lain, air minum lain tak berkelas dan tak punya selera. Tak bisa begitu. Anda penggemar coklat panas (seperti saya?), tak bisa juga disampaikan yang lain punya lidah ndeso, tak tahu bagaimana rasanya menikmati si coklat yang berkelas itu, orang yang tak suka coklat memiliki masa depan suram hingga akhir zaman !. Tak bisa begitu.

Jika tadi saya sampaikan memilih atau tidak memilih adalah hak. Maka sekarang juga ada yang lain. Memilih partai, dan memilih orang atau caleg juga merupakan hak seseorang. Betul, ia adalah hak. Jadi tak perlulah mata melotot, berkoar-koar serang sana, serang sini, jelekkan sana, jelekkan sini, stempel sana, stempel sini, cari salah orang yang kemarin lusa, cari salah orang yang seminggu lalu, cari salah orang yang sekali seumur hidup, cari lemah orang diusahakan setengah mati dipublish di sosial media, kemudian di-share ke sana, di-share ke sini, ingatkan cacat orang yang kemarin, ingatkan cacat orang yang kemarin lusa, cari cacat orang lima tahun lalu, cari cacat orang yang sekali seumur…semua naga-naganya pengen jadi dewa, dirinyalah yang paling digdaya, paling benar selamanya, jika tak mencoblosnya berarti dosa seumur hidup di dunia hingga akherat sana…

Wah, hidup ini indah jika didudukkan pada porsinya. Porsi memilih partai, memilih caleg itu ranahnya individu. Ia adalah hak. Cukuplah sampaikan, Anda punya barang apa, kualitasnya bagaimana, bagusnya dimana, kelebihannya apa? Usah sebut-sebut barang lain sejenis yang usang, kumal dan tak bermutu. Tak usah. Kami pemilih sensitif saudara. Hidup kami ini sudah jenuh, tak usah ditambah mengerutkan dahi mengingat kesalahan orang yang kemarin-kemarin, usah disuruh mencatat kesalahan orang yang sudah kami lupakan.

Ajarilah kami menatap masa depan dengan penuh senyuman. Kampanyelah secara elegan tanpa menghina rekanan.