Puasa: Membebaskan Speaker Masjid dari Kerangkengnya

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Opini & Sitasi

MISC014Kasian speaker di pojok luar masjid itu. Kerangkeng besi itu setia sekali memeluknya. Membekap dan tak ingin melepasnya. Bahkan saya yakin, kerangkeng besi itu setia sekali membela speaker dari gangguan nakal sang maling.

Tak apa memang jika speaker itu harus diberi kerangkeng. Tak ada dalil yang melarang, sama sekali tak ada. Hanya saja kerangkeng speaker di pojok luar masjid itu mengisyaratkan dua hal. Hal pertama, adalah sikap tidak percaya takmir kepada pengunjung; dan kedua, pengunjung adalah pihak yang tidak bisa dipercaya. Pengurus masjid amat tak rela jika speaker tersebut harus lari digondol maling. Setiap orang harus dicurigai bakal mengambil speaker tersebut. Tak terkecuali Pak Haji yang bertopi putih – jamaah setia masjid besar itu, atau saya yang baru pertama kali datang ke situ. Ya, semua harus dicurigai. Pengurus masjid sedang berada di atas daun (naik daun) untuk menunjukkan suudzonnya kepada setiap pengunjung masjid. Nah jika keduanya berkumpul, takmir tak percaya pengunjung dan pengunjungnya juga tidak dapat dipercaya, ┬ámaka tak ayal speaker itu yang menjadi tumbalnya. Dikerangkeng besi tanpa ampun 1 x 24 jam, 7 hari dalam seminggu, tanpa waktu istirahat.

Bulan ini masih bulan ramadhan. Bulan ini mestinya bisa menyelamatkan speaker tersebut dari kerangkengnya. Puasa mendidik orang untuk bisa dipercaya, dan mendidik orang untuk mudah percaya kepada orang. Bagaimana tidak? Orang puasa itu, jangankan makan segelas teh manis di tengah hari. Meminum seteguk bahkan setetes teh manis dengan sengaja di tengah hari pun dia tak berani. Ia amat takut, jika puasanya batal dan tak berpahala. Ia amat tau diri, jika Sang Pencipta amat dekat dan senantiasa mengawasinya.

Puasa juga membuat orang mudah percaya kepada orang. Jika seorang sedang diambang waktu berbuka, ada keutamaan orang yang berpuasa untuk memberikan hidangan kepada orang yang sedang berpuasa. Bahkan pahala orang yang memberi buka puasa dinilai sama dengan nilai pahala orang yang diberinya buka puasa. Bayangkan jika seorang yang memberi buka puasa tidak percaya kepada orang yang diberinya buka puasa? Bisa-bisa tak satupun orang diberinya. Ya, sebab puasa itu amat tersembunyi. Puasa itu urusan seorang dengan Sang Pencipta. Jika seorang mengaku puasa, kewajiban si pemberi buka ya harus mempercayainya. Tak perlu si pemberi buka meminta si calon penerima buka puasa untuk tanda tangan di atas kertas bermaterai bahwa dia benar-benar puasa.

Puasa sekali lagi mengajarkan kita untuk mudah percaya kepada orang, dan dapat menjadi insan yang dapat dipercaya. Dengan dua hal ini rasanya tak sulit membebaskan kerangkeng speaker di pojok luar masjid itu. Ketika tulisan ini selesai dibuat, saya merasa speaker itu tersenyum dan ingin sekali sekali menjabat tangan saya. Namun sayang, kerangkeng itu amat kuat membekapnya. Maukah engkau turut membebaskannya?

Ajibarang, delapan september duaribusepuluh

Dwiyanto Indiahono