Kesalahan yang Disengaja, Tak Disengaja dan Direncanakan

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Beranda

STARS007Hampir dapat dipastikan sebelum memasuki bulan Ramadhan, dan memasuki awal Syawal banyak orang (termasuk saya) menyampaikan permintaan maaf. Banyak sekali variasi dalam ucapan meminta maaf. Ada satu kalimat yang sering kali diucap orang (termasuk saya lagi) seperti ini: “Kami memohon maaf atas kesalahan yang disengaja atau tidak disengaja, semoga Bapak/ Ibu berkenan memberi maaf kepada kami”.

Kalimat ini mungkin lazim. Tapi, sejak lama saya berfikir, dimana sih logikanya berbuat kesalahan koq disengaja? Kalo meminta maaf untuk yang tidak disengaja sih wajar. Wong namanya saja kesalahan pasti tidak ada seorang pun yang ingin menyengajanya. Tapi koq ada tambahan “kesalahan yang tidak disengaja” ya?

Saya baru benar-benar paham kalimat “kesalahan yang disengaja” itu setelah ada pengalaman yang mungkin banyak orang melakukannya. Pernahkah anda menjawab orang yang bertanya: “Mas, Jam berapa sih sekarang?”. Kadang-kadang karena sedang sibuk atau “ingin menyederhanakan” kebanyakan dari kita “menggenapkan” jam. Misalnya saja, pukul 11.27 WIB sering kita bilang jam setengah dua belas. Apakah kita tidak tahu jika kita “telah menyengaja” untuk berbuat salah? Jelas, dan pasti tahu. Penyebutan setengah dua belas hanya untuk menyederhanakan saja, tidak ada maksud lain (kecuali yang punya maksud lain, saya tidak tahu). Yang jelas menggenapkan itu bagi saya adalah kesalahan yang disengaja. Atau bisa jadi saya ingin berkata bahwa kesalahan yang disengaja dan yang tidak disengaja itu bedanya setipis kulit ari.

Itulah manusia. Manusia memang tidak lepas dari kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja. Tidak mengapa karena memang manusia bukan malaikat. Manusia yang baik adalah yang mau belajar untuk meminta maaf untuk setiap perbuatan yang salah, dan berusaha sekuat mungkin untuk tidak mengulangi kesalahan tersebut.

Yang paling keliru adalah kesalahan yang direncanakan. Jenis kesalahan ini mungkin kesalahan yang “tidak termaafkan”. Coba saja lihat, pembunuhan yang direncanakan adalah jenis pembunuhan yang paling berat hukumannya. Memaafkan kesalahan orang yang melakukan kesalahan yang direncanakan pun ternyata tidak semudah memaafkan jenis kesalahan yang lain. Jadi pesan terakhir dari tulisan ini adalah “jangan pernah ingin” dan “jangan pernah berbuat” kesalahan yang direncanakan.

— Dwiyanto Indiahono —