Public Policy Formulation and Public Disobedience: Conceptual Lessons from Tanah Awu People Movement

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Opini & Sitasi

MISC013Public Policy Formulation and Public Disobedience:  Conceptual Lessons from Tanah Awu People Movement

Abstract: Local government in long time has wished to build international airport in Tanah Awu – Lombok Tengah – Nusa Tenggara Barat Province. Pro and contra to this plan happened since building plan published by government. In a period of new order, some of local residents have got compensat plan in the reality was done by resident who have got compensation and haven’t got compensation. Public disobedience by farmer of Tanah Awu for international airport in their land has left many important lessons for the public policy formulation. This article will give conceptual answer for problems of public disobedience and public policy making in this case. The conceptual answers for public policy formulations are: First, public in the future have to manage aspiration better and submit the aspiration to government more democratically. Second, government have to: create dialogue rooms for public who giving criticism and input to every policy; have commitment and try create pro poor policy maximally; create policy framework that capable to give win-win solution for all stakeholders.

Keywordspublic disobedience, public policy formulation, democratic governance.

Artikel ini dimuat pada Jurnal Terakreditasi JIANA – Jurnal Ilmu Administrasi Negara, Universitas Riau Edisi Vol. 9 No. 1 Januari 2009. Bagi Mahasiswa FISIP (khususnya Jurusan Ilmu Administrasi Negara) Universitas Jenderal Soedirman, artikel ini dapat diakses di Perpustakaan Jurusan Ilmu Administrasi Negara FISIP UNSOED. Bagi mahasiswa dan khalayak lain, artikel dapat dibaca pada Jurnal Edisi Lengkap. Silahkan buka web site JIANA atau klik di sini.

Finding Political Party with Rural Development Platform

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Opini & Sitasi

MISC013Finding Political Party with Rural Development Platform

Judul Asli: Mencari Partai Politik Ber -platform Pembangunan Pedesaan

Abstract: Social equity for all Indonesia people obliges the distributing of prosperity from urb an till to rural side. Caring many institutions from government agency and non -governmental agency to rural development practically not yet maximally give the support of political process to rural people. One of the factors able to be showed is weakening support from political parties to rural development. Stimulating political party to voice rural development is urgent to do. Political parties as most responsible institution in the case of voicing people aspiration have to think harder for interests of rural people which are majority. Political parties have to start to do empower for the rural society to create powered and self -supporting rural society. Public have to be smart political actor in political activities by choosing parties committing at rural development, and mutual profiting development between urban and rural. Public also have to start to do pressure to political parties and members of parliament (DPR/D) to always to do communications better with rural people to create responsive policy for rural problems.

Keyword : commitment, political party, rural development, and rural policy.

Artikel ini dimuat pada Jurnal Terakreditasi Masyarakat, Kebudayaan dan Politik Universitas Airlangga Edisi Vol. 22 No. 3 – July-2009. Artikel ini dapat Anda baca pada web site Jurnal Elektronik Unair atau klik di sini.

Kesalahan yang Disengaja, Tak Disengaja dan Direncanakan

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Beranda

STARS007Hampir dapat dipastikan sebelum memasuki bulan Ramadhan, dan memasuki awal Syawal banyak orang (termasuk saya) menyampaikan permintaan maaf. Banyak sekali variasi dalam ucapan meminta maaf. Ada satu kalimat yang sering kali diucap orang (termasuk saya lagi) seperti ini: “Kami memohon maaf atas kesalahan yang disengaja atau tidak disengaja, semoga Bapak/ Ibu berkenan memberi maaf kepada kami”.

Kalimat ini mungkin lazim. Tapi, sejak lama saya berfikir, dimana sih logikanya berbuat kesalahan koq disengaja? Kalo meminta maaf untuk yang tidak disengaja sih wajar. Wong namanya saja kesalahan pasti tidak ada seorang pun yang ingin menyengajanya. Tapi koq ada tambahan “kesalahan yang tidak disengaja” ya?

Saya baru benar-benar paham kalimat “kesalahan yang disengaja” itu setelah ada pengalaman yang mungkin banyak orang melakukannya. Pernahkah anda menjawab orang yang bertanya: “Mas, Jam berapa sih sekarang?”. Kadang-kadang karena sedang sibuk atau “ingin menyederhanakan” kebanyakan dari kita “menggenapkan” jam. Misalnya saja, pukul 11.27 WIB sering kita bilang jam setengah dua belas. Apakah kita tidak tahu jika kita “telah menyengaja” untuk berbuat salah? Jelas, dan pasti tahu. Penyebutan setengah dua belas hanya untuk menyederhanakan saja, tidak ada maksud lain (kecuali yang punya maksud lain, saya tidak tahu). Yang jelas menggenapkan itu bagi saya adalah kesalahan yang disengaja. Atau bisa jadi saya ingin berkata bahwa kesalahan yang disengaja dan yang tidak disengaja itu bedanya setipis kulit ari.

Itulah manusia. Manusia memang tidak lepas dari kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja. Tidak mengapa karena memang manusia bukan malaikat. Manusia yang baik adalah yang mau belajar untuk meminta maaf untuk setiap perbuatan yang salah, dan berusaha sekuat mungkin untuk tidak mengulangi kesalahan tersebut.

Yang paling keliru adalah kesalahan yang direncanakan. Jenis kesalahan ini mungkin kesalahan yang “tidak termaafkan”. Coba saja lihat, pembunuhan yang direncanakan adalah jenis pembunuhan yang paling berat hukumannya. Memaafkan kesalahan orang yang melakukan kesalahan yang direncanakan pun ternyata tidak semudah memaafkan jenis kesalahan yang lain. Jadi pesan terakhir dari tulisan ini adalah “jangan pernah ingin” dan “jangan pernah berbuat” kesalahan yang direncanakan.

— Dwiyanto Indiahono —

“…Rizqi Takkan Pernah Salah Jalan…”

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Beranda

GEAR2“…Rizqi takkan pernah salah jalan…”

Meja makan kayu itu saya hitung jumlahnya lima buah. Jadi saya yakin betul bahwa lelaki paruh baya itu memang lelaki yang amat kuat. Bukan cuma kuat secara fisik, tetapi juga kuat jiwanya. Iya, lelaki itu adalah laki-laki yang saya lihat memanggul lima buah meja makan di atas pundaknya, berjalan tertatih, pelan, namun tetap mengeluarkan cahaya keyakinan. Cahaya keyakinan yang terpancar adalah suatu keyakinan bahwa di suatu saat dan tempat, salah satu (atau lebih) meja yang ada dipundakku akan laku terjual.

Jika ia sabar melakukan hal ini, saya 1000 persen yakin, dialah yang mendapatkan kemenangan dan Rizqi yang halal. Ia telah menang tidak tergoda untuk duduk di emper toko berpura-pura cacat atau bersandiwara layaknya peminta. Ia juga tidak tergoda menjadi pengamen di pertigaan lampu merah, yang jika mau, bisa ia lakukan sebab menjadi pengamen di jalanan tak harus punya suara seindah artis berbintang. Sekali lagi ia tak melakukannya. Yang sedang ia lakukan adalah menguras keringat yang dipunya, menjaja meja makan dengan kayu murahan untuk keluarga yang harus tetap bertahan. Orang-orang seperti dia, jika tetap bersabar dan bertawakkal saya yakin do’anya bakal dikabulkan. Rizqinya insyaAllah halal, perutnya bersih dari kotoran riba dan korupsi. Hatinya berbisik pelan, Rizqi untukku pasti sudah ditetapkan dan Rizqi tak kan pernah salah jalan.

Ah, saya jadi malu melihatnya. Malu karena sedikit bersyukur dan malu karena terlalu sering mengeluh. Ampuni kami ya Allah…

— Dwiyanto Indiahono —

Beasiswa Pasca Sarjana

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Beranda

STATIONDIKTI melalui Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri menawarkan beasiswa Biaya Pendidikan bagi Mahasiswa Baru Program Pascasarjana Ilmu Administrasi UNSOED

Bagi Lulusan Sarjana S1 (Ilmu Sosial)  yang berminat melanjutkan studi pada Program Pascasarjana Ilmu Administrasi (MAP) Unsoed Tahun Akademik 2010/2011 (selain Dosen) dan berusia tidak lebih dari 35 tahun dapat mengajukan usulan Beasiswa Bantuan Pendidikan dengan mendaftarkan diri dan segera menyerahkan persyaratan sbb:

  1. Foto Copy Ijasah dan Transkrip Akademik S1dengan  IPK  minimal 3,25
  2. Sertifikat TOEFL dengan skor minimal 500

Berkas Persyaratan diserahkan ke Sekretariat MAP paling lambat pada  tanggal  12 Agustus 2010

Purwokerto,  2 Agustus 2010

 

Ketua Program,

Dr. Ali Rokhman, M.Si.

NIP. 19671017 199303 1 003

 

Informasi Hubungi: Staff MAP Unsoed

e-mail:  e-j.wirarahhardjo@gmail.com

Telp. 0281-641419