Kebiasaan “Nekat” dan Kebijakan Publik

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Beranda

DOLFINSaat mengikuti wahana kereta putar, hanya kedua anak kami yg memakai sabuk pengaman. Kami merasa ini adalah bagian penting dari pendidikan anak. Anak harus dididik untuk berikhtiar layaknya manusia wajar lainnya.  Jangan biarkan anak tumbuh dalam identitas “nekat” dan instan. Banyak yang merasa bahwa ini sepele, tapi ini sangat penting. Bayangkan saja banyak orang ingin meraih nilai ujian tinggi tanpa belajar secara kontinyu; orang ingin selamat berkendara tapi tak mau memakai helm atau sabuk pengaman. Semua ini bagian dari ikhtiar manusiawi. Takdir memang telah ditentukan, dan justeru itulah manusia harus berikhtiar sebisa yang dia bisa lakukan.

Kebiasaan nekat inilah yang mungkin menjadi sebab sulit sekali membudayakan helm bagi pengendara sepeda motor. Hal ini pulalah yang membuat banyak orang nekat menjadi koruptor. Ia tahu salah, tapi berharap tak ada polisi yg menangkapnya.

Selaras dengan kebiasaan nekat ini pulalah kebijakan publik diambil secara sepihak tanpa proses yang demokratis. Publik banyak yang menolak tetapi pengambil kebijakan terus “nekat” mengambil kebijakan dan mengimplementasikannya. Anda tentu belum lupa kan kejadian di Makam Mbah Priok?.

Pendidikan anak amat penting bukan hanya untuk diri si Anak (sendiri) tetapi juga penting bagi bangsa ini. Anak harus dididik mampu menyadari bahwa dia harus berusaha (ikhtiar) semaksimal mungkin layaknya manusia, dan dididik untuk menyerahkan segala hasil usahanya kepada Allah Sang Pencipta. Ajarkan kepada si Anak bahwa dia boleh gagal, tetapi tidak boleh berhenti berikhtiar. Ajarkan kepada si anak bahwa ikhtiar dan berdo’a merupakan satu-satunya jalan meraih kesuksesan.

Semoga bermanfaat.

Dwiyanto Indiahono