…Belajar di Bengkel Las…

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Beranda

STATIONKemarin pagi saya harus menghabiskan waktu hampir seharian di bengkel las. Sebenarnya tidak persis satu hari, cuma dari jam sembilan pagi sampai dengan jam dua siang. Tapi biasanya orang menyebutnya “seharian” hanya karena menyita jam kerja efektif. Ada sesuatu yang harus dikerjakan di bengkel las. Bengkel las itu dulu pernah membantu memperbaiki knalpot mobil saya yang bocor. Sebelum diperbaiki bunyi knalpotnya luar biasa: seperti orang mau kampanye saja. Tapi setelah diperbaiki, suaranya “nyaris tak terdengar”. Meski bengkel las itu tidak begitu besar, tapi saya percaya tukang las tersebut cukup amanah untuk memperbaiki mobil saya.

Pengalaman seharian menunggui pekerjaan selesai di bengkel las, ternyata banyak pula pengetahuan yang didapat. Di samping bengkel las tersebut ada kawan si tukang bengkel las yang buka usaha pengecatan sepeda motor, ada tukang bengkel sepeda motor, dan juga ada yang buka usaha permak jok mobil, motor, atau kursi. Selama seharian itu, saya lihat betapa para awak pengusaha kecil kita amat “tolong menolong”.

  • Selagi awak bengkel motor memerlukan amplas halus, ia langsung saja mencomot amplas bekas yang biasa dipergunakan oleh si tukang cat. Tak heran, saya lihat si tukang cat mengernyitkan dahi kala mencoba menghitung kembali amplas bekas yang ada di ember. Mungkin dia bertanya: kemana tadi amplas yang satunya? ia tidak tahu jika amplasnya telah dibawa si tukang bengkel sepeda motor.
  • Selagi membutuhkan obeng, si tukang cat langsung saja membawa obeng si tukang las. Tak heran, si tukang las harus mencari-cari obeng yang tadi ada di dekatnya yang tiba-tiba raib.  
  • Yang lebih parah, selagi si tukang las mengelas pekerjaan untuk saya, tiba-tiba datang seorang kawan tukang las yang langsung saja pinjam itu solder las, dipakai untuk mengerjakan pekerjaan dia seorang. Si tukang las ini pun tak berkata apa-apa kecuali menyerahkannya. Terpaksalah pekerjaan saya tertunda untuk waktu yang cukup lama, kira-kira stengah jam, menunggui pekerjaan “orang baru” ini selesai.

Indah memang ketika mendapati komunitas yang akrab, saling tolong, saling bantu. Meski agak kesal juga karena harus dinomor-duakan, tapi saya sadar. Inilah komunitas asli bangsa: mudah membantu, mudah tolong menolong. Saya hanya tersenyum dalam hati. Allah sedang mengajari saya makna hidup bersama: tanpa ada rasa curiga dan tanpa prasangka.

Dwiyanto Indiahono (20 Mei 2010)