Tugas Terstruktur BPS: “MEMBUAT CERPEN BIROKRASI”

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Birokrasi dan Perubahan Sosial

tugas 2

Tugas Terstruktur Mata Kuliah Birokrasi dan Perubahan Sosial

“MEMBUAT CERPEN BIROKRASI”

Pengantar:  Anda tentu pernah bersinggungan dengan birokrasi/ organisasi publik/ instansi pemerintah, atau Anda tentu pernah mendengar cerita/ celoteh orang tentang birokrasi yang berbelit, tidak ramah, mahal dan lain sebagainya, Atau Anda justeru beruntung mendapatkan pelayanan publik yang memuaskan.

Tugas:  Buatlah Cerita Pendek yang dapat menggambarkan pengalaman Anda ketika berhubungan dengan birokrasi/ instansi pemerintah.  

Ketentuan:

  1. Cerpen dapat menggunakan nama aktor dan nama tempat samaran atau sebenarnya.
  2. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia populer (karena ini berbentuk Cerpen).
  3. Panjang Naskah: 3-5 halaman, jenis kertas: Kuarto, font: Arial, ukuran huruf:12, spasi: 1, batas pinggir halaman: bebas.
  4. Naskah Cerpen soft copy (dalam bentuk file: MS Word -.doc dan jangan dalam bentuk .docx atau bentuk file lain) dikirimkan via email ke alamat: indiahono@yahoo.com paling lambat Jumat (14 Mei 2010) pukul 14.00 WIB. Email dikirim via attachment dengan format pengiriman email adalah dengan mencantumkan subyek email:  “Cerpen Birokrasi – NIM: FIB00………..(Jangan Menggunakan Subyek Lain) dan nama file yang dikirim:Cerpen Birokrasi – NIM F1B00……………(Jangan Menggunakan Nama File yang lain) .
  5. Naskah Cerpen hard copy dan surat pernyataan (dalam bentuk cetak): dikumpulkan paling lambat Sabtu (15 Mei 2010) pukul 12.00 WIB di meja dosen pengampu-Dwiyanto Indiahono.
  6. Cerpen dengan nilai baik akan ditampilkan ke web site: http://indiahono.blog.unsoed.ac.id/ , untuk hal tersebut maka seluruh naskah harus dilampiri surat pernyataan hasil karyanya merupakan karya original, bukan hasil plagiat dan bersedia hasil karyanya ditampilkan ke dalam web site (Surat Pernyataan Terlampir-dikumpulkan bersamaan dengan pengumpulan naskah cerpen dalam bentuk cetak)
  7. Jika Anda terbukti melakukan plagiat, maka Anda akan diberi nilai 0 dalam tugas ini.

Selamat mengerjakan, jika ada pertanyaan silahkan tulis pada komentar di bawah ini. Atas Perhatian dan Kerjasama yang baik disampaikan terima kasih.

Indiahono

 —– CONTOH SURAT PERNYATAN —

Surat Pernyataan

Saya yang bertandatangan di bawah ini,

Nama           :

NIM               :

dengan ini menyatakan bahwa Naskah atau Cerita Pendek yang berjudul: …………………………………………………………………………………………… merupakan karya asli Saya dan bukan karya yang pernah ditulis oleh orang lain. Saya mengijinkan karya tersebut dipublikasikan dan dimuat dalam web site: http://indiahono.blog.unsoed.ac.id/ . Bila dikemudian hari terbukti terdapat pelanggaran terhadap pernyataan ini, Saya sanggup menerima sanksi. Demikian pernyataan ini dibuat dengan sebenar-benarnya.

Yang Menyatakan,

…………………………………………………………..

NIM.

Pemerintah dan Tuminah yang Gundah

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Beranda

pengemisBeberapa waktu lalu, secara tak sengaja saya menonton acara reality show “Tolong” di salah satu televisi swasta. Jujur saja, isi acara reality show yang saya tonton itu tak sepenuhnya saya setujui. Namun, sore itu ada hal menarik dari penolong yang hadir di akhir acara tersebut. Sebut saja nenek itu Tuminah, umurnya sudah 92 tahun, kakinya cacat karena tertabrak gerobak, tinggal disebuah “gubuk” atau tenda, atau ….(saya sendiri sulit menggambarkannya). Kalolah disebut gubuk, tempatnya tak pantas disebut gubuk karena ia tak memiliki pintu dan cendela. Jika disebut tenda, tak juga benar karena tak ada tali yang ditancap ke tanah layaknya tenda. “Rumah” nenek Tuminah hanyalah sebuah ruangan mirip gua, yang hanya muat jika dimasuki dengan cara merayap. “Rumah” itu pun pendek, hingga hanya muat dimasuki nenek Tuminah seorang dengan posisi telentang. “Rumah” itu berada di tengah barang rongsokan dagangannya. Di Usia senja ia masih harus menjual barang bekas. Sebagai imajinasi, ia menjual sepasang sepatu hanya seribu rupiah. Bayangkan jika uang bailout Bank Century dibelikan sepatu di Mbah Minah ini (?).

Nenek Tuminah yang sudah renta pun hanya dapat telentang ketika melayani pembeli. Ia makan sekali sehari dengan bantuan orang sekitar yang masih mau dititipinya. Tahukah anda, apa obsesi terbesar seorang renta seperti Tuminah? Ia hanya ingin jika “Gusti Allah” mematikannya dengan segera!. Nampaknya tak ada harapan yang dimiliki nenek Tuminah ini, hingga mati pun telah ia pinta. Hidup sebatang kara, papa, dan …menderita…

Ingatan tentang nenek Tuminah, membawa saya untuk melirik sebuah institusi yang bernama pemerintah. Negara ini telah memberikan amanah dalam UUD 1945, bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Tuminah bukan hanya fakir lagi miskin, ia jauh dari itu, ia sudah merasa hampa di dunia, dan hendak pergi ke alam baka. Kisah Nenek Tuminah seharusnya menjadikan para pemimpin negeri ini berkaca pada keringat, dan air mata penderitaan rakyat. Masih banyak amanat yang belum terangkat, jangan sampai mereka (para kaum miskin dan papa) mengadu di depan majelis akherat, karena bisa jadi kiamat. Para pemimpin harusnya ada di setiap detik kehidupan rakyat yang melarat, menyelami keringat rakyat, dan berkhidmat untuk kesejahteraan umat. Ia tak bermimpi mendapatkan penghargaan, gaji dan tunjangan yang berlipat, ia mencukupkan diri dengan kebahagiaan umat. Kebahagiaan umat adalah kebahagiaan pejabat. Hal ini jangan sampai dibalik: bahagia pejabat adalah kebahagiaan umat, sebab jangan sampai uang rakyat habis untuk fasilitas pejabat dikala masih banyak rakyat yang sekarat meminta belas kasih di jalan-jalan, menjulurkan tangan, meminta dengan seluruh harap, keringat dan air mata.

— Dwiyanto Indiahono — 10 Mei 2010