Karat Pintu Istana

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Beranda

india
Pintu istana telah berkarat
Ditiup angin genit yang berhembus di sebilah sedotan

Harusnya kau tak berkarat
Bukankah engkau kayu rendaman

Direndam dalam rindu tak berkesudahan
Direndam dalam cinta setinggi cita

Kau tetap berkarat
Dalam asa yang remuk redam

Kaki Gunung Slamet,
Dwiyanto Indiahono 01-08-2016

Petir Baladewa

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Beranda

india

Baladewa berdiri di tengah raja dan pejabat teras Hastina
Hatinya bergemuruh murka
Dipandanginya satu persatu para kesatria
Sang raja Duryodana pun tak sanggup menatap matanya

Matanya merah semerah-merahnya
Kepal tangannya keras sekeras-kerasnya
Andaikan di depannya ada besi baja
Besi itu pun lumer karna marahnya

Kakanda Duryodana dan para kesatria
Inikah jalan yang sengaja kalian cipta
Menabuh genderang perang dengan suka cita
Merampas, merampok kerajaan dari Pandawa

Kudengar hati kalian bersorak dengan perang ini
Padahal di sana, para prajurit ingin lari dari perang suci
Tak ada anak yang ingin kehilangan ayahnya
Tak ada ibu yang ingin kehilangan anaknya
Kalian memang penipu digdaya
Hukum bisa kau lipat, seakan-akan kau memang selalu benar adanya
Tidak saudaraku, semua orang telah melihat kasat mata
Apa yang kalian lakukan itu kebenaran yang fata morgana

Duryodana hanya bisa menatap tajam pedang dan seragam perangnya
Ingin rasanya ia mendebat habis adiknya
Namun ia tak kuasa
Amarah Baladewa yang meledak bagai beban berat yang buat dia tak mampu bersuara

Baladewa menyingsingkan baju bawahnya
Derap langkah itu tegas meninggalkan istana Hastina
Para ksatria hanya mampu mengiring kepergiannya dengan lirikan mata
Tak berani ujung mata mereka bertemu sekecil saja bagian mata Baladewa

Empat hari telah berlalu
Baratayuda tetap menunggu

Di tempat Pandawa, Baladewa berdiri sama
Sama saat ia berdiri di depan para Kurawa
Sorot matanya tetap tajam setajam-tajamnya
Matanya tetap merah semerah-merahnya

Saudaraku Pandawa, engkau tahu
Adikku adalah istri Arjuna
Kakakku adalah istri Duryodana
Anak-anak yang lahir dari mereka adalah keponakanku, keponakan kalian semua

Aku tetap menolak perang ini
Aku tetap membenci perang yang kalian bilang suci
Bukan karena kalian adalah saudara-saudaraku
Bukan karena kalian adalah darah dagingku

Di Istana Duryodana dan sekutunya aku telah sampaikan
Bahwa mereka itu perampok ulung yang ketahuan
Tetapi di sini, aku juga membenci kalian
Di sini, ada gunung haus yang puncaknya bernama rakus kekuasaan

Kalian Pandawa, bukankah telah dinisbatkan sebagai pembela keadilan, kebaikan dan kebenaran
Tetapi kenapa kalian tak cukup dengan kerajaan-kerajaan yang telah ada di tangan
Tak cukupkah itu semua?
Kurangkah itu semua?
Jangan-jangan orang-orang itu telah salah menilai kalian

Jika kalian masih kurang berkuasa
Kalian bisa datang dan ambil sebagian kerajaanku di Manthura
Atau kalian bisa datang dan ambil sebagian kerajaan milik Sri Kresna
Semua bisa kalian dapatkan dengan percuma tanpa angkat senjata

Mereka Kurawa memang keliru, tetapi kekeliruan mereka pun bagian dari kekeliruan masa lalu
Setiap kita punya andil dalam setiap kekeliruan orang lain saudaraku
Entahlah, mungkin aku ini yang keliru
Tetapi, satu keyakinanku, menolak perang ini adalah kebenaranku

Baladewa menggenggam tangan erat seerat-eratnya
Ditatapnya langit yang mulai ciut dengan tatapannya
Dihentakkan langkah pertamanya
Ditinggalkan istana Pandawa dengan banyak tanda tanya

Baladewa dan bala tentaranya menyingkir dari peperangan
Baladewa menyepi dan tinggal di pinggiran
Tak ingin ia mendengar update peperangan
Ditutup telinganya, tak mau dengar siapa yang kalah dan bermandi kemenangan

Kaki Gunung Slamet 31-07-2016 07:22 WIB

Arjuna di Simpang Jalan…

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Beranda

india

Arjuna menatap tajam hamparan tanah lapang di depannya
Ia tak pernah membayangkan jika esok hari ia harus bertaruh nyawa di medan laga
Ia sempat ciut, bukan untuk perang dan kekalahan
tetapi untuk saudara, korban dan kemanusiaan

Kepal tangannya mulai melemah direnggangkan
Hati kecilnya berkata, usahlah perang dilangsungkan
Cukuplah kerajaan kecilnya jadi surga
Tak usah menuntut kerajaan besar jika harus ditebus dengan ribuan nyawa

Sri Kresna di kemah perang mulai gelisah merana
Arjuna Sang Patih tiada di tempatnya
Padahal strategi perang harus siap sedia
Tanpa cacat untuk kemenangan nyata

Kereta kuda kencana miliknya dikebut sebisanya
Secepat kilat secepat cahaya
Kresna tau di mana ia dapat menemukan Arjuna
Di suatu tempat di dekat medan laga

Dari kejauhan kepulan debu itu menggambarkan siapa yang akan menghampirinya
Arjuna tetap menatap tajam hamparan tanah lapang di depannya
Kresna datang dalam diam seribu bahasa
Turut memandang medan laga dengan sorot tajam setajam-tajamnya

Arjuna, aku tahu apa yang sedang kau rasa
Selepas berkata, sepi dan debu yang beterbangan semakin terasa
Jika Tuan sudah tahu, tiadalah guna Tuan di sini bersama Arjuna
Hamba sudah berketetapan, esok hari Arjuna tidak ada di medan laga

Arjuna, kehidupan itu bukan semata-mata tentang kerajaan dan kekuasaan
Ia juga harus diwarnai dengan perjuangan menegakkan keadilan dan kebenaran
Jika saja engkau tak maju perang di esok hari
Itu takkan mengubah apapun tentang perang ini

Ini bukan hanya tentang keberanian
Perang ini juga akan menunjukkan kesetiaan
Kesetiaan kepada keadilan dan kebenaran
Kesetiaan kesatria kepada janji prajurit dan persaudaraan

Tak mengapa engkau tinggalkan saudara-saudaramu dalam perang ini
Tak mengapa engkau hanya peduli kerajaan kecilmu yang kau anggap abadi
Tapi ingat, jika engkau lari dari perang ini
Di manakah wajahmu di catatan sejarah kepahlawanan
Di manakah mukamu di catatan kesatria pembela keadilan, kebenaran dan persaudaraan
Kresna memandangi wajah Arjuna yang mulai kemerahan
Pertanda api semangat perang kembali bisa dikobarkan

Tuan Kresna, Tuan memang pandai memainkan hati hamba
Tapi Tuan, jika saja Arjuna mengangkat senjata dalam laga
Berjanjilah tak kan ada lagi genderang perang
Berjanjilah tak kan ada lagi kedholiman

Arjuna, Aku tak berani berjanji apakah esok hari tiada lagi perang
Yang aku tahu, di setiap masa yang kelam akan ada benderang
Tabir kelam kadang hanya bisa dibuka dengan perang
Usahlah kau bimbang, sebab sang malam akan selalu setia dengan sang siang

Kaki Gunung Slamet, 29-07-2016 10:18 WIB

pencari suaka keadilan

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Beranda

india

bendera kebenaran itu bukan hanya ada di teras rumah kita
jangan-jangan kebenaran itu ada di mulut dan kepal tangan mereka
sediakan saja telinga hati dan kepala
dengarkan baik-baik dan seksama kebenaran versi mereka

mereka sejatinya sedang membuat prasasti zaman
bahwa kebenaran harus diperjuangkan
bila aksi berbuah kecaman
takkan surut, teriakkan perang kepada kezaliman

teruslah maju melaju
teruslah sampaikan nuranimu
bila ada pagar menghadangmu
singsingkan lengan baju teriakkan nyalimu

17-06-2016

Review Diskusi BPJS, Jaminan Kesehatan: antara masalah dan tantangan

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Analisis Kebijakan Publik

 

organisasi

Siang itu, matahari masih menyengat di lingkungan Gedung Dekanat FK Universitas Jenderal Soedirman. Tetapi, begitu memasuki gedung, suasana berubah drastis. Dingin. Setelah memasuki ruangan serbaguna di lantai 2 gedung Dekanat itu, suasana nampak lebih hangat. Apalagi melihat pembicara sudah mulai menyampaikan materi, Pak Kajur yang menyambut ramah, serta peserta yang duduk seperti singa yang siap menerkam mangsa. Ya, siang itu kami memang akan berdiskusi mengenai BPJS. Makhluk yang lahir kemarin sore, yang punya seribu muka. Bagi pasien tidak mampu, BPJS bak malaikat penolong. Bagi tenaga medis yang klaimnya dibayar tidak penuh, BPJS seperti copet yang harus diteriaki. Bagi tenaga medis yang mendapatkan kapitasi yang lumayan, BPJS seperti balon, kadang dipukul ke atas, kadang dipeluk, tetapi kadang pula diletuskan. Bagi wartawan, BPJS seperti ban bocor, dicari lubangnya, kalo sudah ketemu segera dicoblos untuk ditembel. Persis. BPJS bagi wartawan selalu dicari kekurangannya. Prinsip” bad news is good news”, amat mereka pahami untuk kasus BPJS. Bagi pemerintah, BPJS seperti sansak (betul nggak istilahnya?), itu bantal berisi pasir atau kapas yang lazim dipukul atau ditendang saat latihan beladiri. Ia dibiarkan saja dipukul dan ditendang. Malah kadang yang empunya kadang berteriak” ayo pukul yang keras, jangan pelan-pelan”.  Hingga akhirnya, yang mukul capek dan berhenti, yang empunya tersenyum penuh kemenangan dan bersenang hati.
Diskusi ini dimulai dengan materi pengantar oleh Dr. Sc.hum, Budi Aji, SKM, M.Sc . Dr. Budi menyampaikan hal menarik tentang mengapa diperlukan jaminan kesehatan; dan perbedaan antara Askesos dan Komersial. Beliau menyampaikan bahwa setidaknya ada beberapa faktor yang menyebabkan pentingnya jaminan kesehatan. Pertama, kegagalan pasar pelayanan kesehatan yang acapkali gagal untuk memberikan si miskin haknya untuk mengakses fasilitas kesehatan. Kedua, kehidupan manusia yang berpotensi resiko (sakit). Resiko menanggung biaya pelayanan ketika sakit harus dicarikan solusinya, yaitu dengan mentransfer resiko ini (risk transfer) kepada asuransi kesehatan. Ketiga, manusia bersifat short sighted, yaitu menunjuk kebiasaan manusia yang hanya memikirkan hal-hal yang jangka pendek. Hal ini kadang kala dapat muncul dari orang-orang yang berkantung tebal. Ia tak perlu memikirkan asuransi, sebab, jika ia sakit ia mampu membeli layanan kesehatan. Short sighted ini seharusnya tidak dilakukan oleh orang dengan penghasilan pas-pasan, sebab ia tak punya sumber daya untuk menanggulangi resiko pembayaran pelayanan kesehatan jika ia sakit. Sehingga, asuransi kesehatan menjadi amat diperlukan.
Perbedaan antara askesos dan komersial  kemudian menarik untuk ditelaah. Dr. Budi menyampaikan bahwa Askesos bercirikan kepesertaan wajib bagi seluruh penduduk, non profit, dan manfaatnya bersifat komprehensif. Sedangkan, Asuransi komersial kepesertaan bersifat sukarela, profit dan manfaat yang diterima sesuai dengan premi yang dibayarkan.
Setelah sesi pengantar, Pak Joko sebagai moderator pun mempersilahkan para peserta untuk berkomentar tentang BPJS. Banyak hal menarik yang didapat dari sesi ini. Para peserta diskusi dari tenaga medis kebanyakan berkeluh kesah tentang BPJS, terutama adalah tarif yang tak masuk akal, klaim yang tak dapat dibayar maksimal, serta aturan-aturan kementerian yang aneh, unik, dan tentu saja langka. Salah satu peserta diskusi dari tenaga medis menyatakan bahwa selama ini BPJS tahu jika klaim yang dibayar dibawah dari real cost. Ada lagi peserta diskusi yang amat berapi-api, “Ayo kita rubah, jika memang itu tak sesuai, ayo kita bergerak. Kebijakan itu kalo memang salah harus kita lawan, jangan diam saja. Begitu SK turun dan tidak sesuai dengan lapangan jangan hanya diam, manut dan tunduk patuh saja. Jangan, ayo kita rubah. Kita ajak mereka berdiskusi dengan kondisi riil di lapangan. Kebijakan harus pro kepada Anda dan kita semua”. Wuih, senang rasanya mendengarnya berapi-api. Mengingatkan saya dengan seorang orator mahasiswa saat berdemo.

Peserta diskusi dari FISIP kemudian masuk untuk memberi pandangannya. Mas Lutfi menyampaikan bahwa masalah BPJS dari beberapa pendapat menunjukkan adanya pergulatan antara BPJS – Tenaga Medis, BPJS – Pemerintah, BPJS – Masyarakat, Tenaga Medis – Masyarakat. Keadaannya memang tak cukup sederhana untuk diurai. Selain itu, pemerintah sebagai pihak yang paling bertanggung jawab memang harus turun tangan dan menyelesaikan semuanya. Pemerintah tetap harus hadir untuk menyelesaikan ini. Alokasi Fiskal untuk subsidi bidang kesehatan seharusnya memiliki range yang lebih besar setelah dicabutnya subsidi BBM.
Salah satu peserta dari FISIP lainnya kemudian menambahkan. Bahwa penentuan harga yang wajar untuk premi jaminan kesehatan bukanlah hal yang mudah. Pertama, data orang miskin di Indonesia merupakan data politis yang kadang kala tidak menunjukkan hal yang sesungguhnya. Kedua, selama ini ada misteri di ruang publik tentang harga atau ongkos pelayanan kesehatan. Dalam nuansa kebatinan publik, di sana ada misteri tentang pelayanan kesehatan, harga obat, fee dokter, sewa alat, pengadaan dan perawatan alkes, dan lain-lain. Alam bawah sadar publik menyatakan bahwa harga pelayanan kesehatan adalah mahal. Sedangkan dalam nuansa kebatinan tenaga kesehatan, mereka menyatakan bahwa tarif yang berlaku adalah (telah) wajar. Nuansa kebatinan publik dan tenaga kesehatan dengan demikian tidak nyambung. Satu sisi, tenaga kesehatan mengaku tidak pernah di bayar penuh klaimnya, terlalu kecil, tetapi jaspel yang diterima tenaga kesehatan, manajemen rumah sakit, dan staff administrasi selalu besar. Publik kemudian bersuudzan bahwa mereka sudah terlalu mahal membayar layanan kesehatan. Asumsi serupa nampaknya juga mendapatkan pembelaan dari BPJS, sehingga kadangkala tak membayar penuh seluruh klaim yang diajukan.
Maka menarik statemen dari salah satu peserta yang dokter dan juga dosen. “Nampaknya, sekarang kita berada dalam dunia yang selalu berburuk sangka, tenaga medis berburuk sangka kepada BPJS, BPJS juga sebaliknya, publik berburuk sangka kepada tenaga medis, dan BPJS. Mungkin sekarang saat yang tepat untuk memulai komunikasi yang lebih terbuka antara para pihak yang terkait”.
BPJS memang akan selalu menarik untuk didiskusikan, dan tak terasa sudah hampir 2 jam diskusi itu berlangsung. Diskusi ini dari gelagatnya merupakan diskusi awal. Nantinya akan ada diskusi-diskusi turunannya yang akan membahas BPJS (lagi) atau hal yang lain. Tapi melihat dan mendengar para peserta diskusi menyampaikan pendapat-pendapat yang cerdas, dan lugas. Itu sudah cukup meyakinkan bahwa publik tak akan kalunto-lunto. Karena ada kaum intelektual yang menaruh hati dan pikirannya bukan ditubuhnya, tetapi di tubuh rakyat yang haus kebenaran dan keadilan.

08-08-2015
08.05 – 08.45

Terima Kasih Gus…

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Opini & Sitasi

gus mus
Rumah kami di Rembang tak lebih dari 2 kilometer dari Pondok Pesantren Roudhotut Tholibin. Setiap Jumat pagi, kami dahulu pasti melihat ratusan santri berjalan pulang ziarah dari makam Mbah Bisri (KH. Bisri Mustofa – semoga Allah merahmatinya).  Ibu kami, hingga kini juga ikut pengajian di pondok itu setiap Selasa dan Jum’at pagi dengan berjalan kaki.  Sebagai orang yang selalu mengaku berasal dari Rembang, saya selalu bangga menyebut Mbah Mun (KH. Maemun Zubair), Mbah Cholil (KH. Cholil Bisri – semoga Allah merahmatinya), dan Gus Mus (KH. Mustofa Bisri).
Jauh hari sebelum Muktamar NU di Jombang, secara pribadi saya amat penasaran dengan peran yang bakal dimainkan oleh Mbah Mun dan Gus Mus. Seiring dengan isu AHWA, juga  karena mereka adalah panutan kami. Tentang Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA), teringat pula pesan Mbah Cholil untuk mendesain sendiri demokrasi ala Islam dan Indonesia. Musyawarah harus menjadi ruh dalam pengambilan keputusan. Ide tentang perubahan mekanisme pemilihan pimpinan tinggi NU ke arah perwakilan, semakin menguat pasca Muktamar NU di Makasar yang dianggap liberal.
Berita itu pun muncul, pertama tentang Mbah Mun yang duduk agak di belakang, duduk di urutan ketiga, dan bersemangat untuk berdiri (meskipun sudah sepuh) saat lagu Indonesia raya berkumandang. Tentang posisi duduk Mbah Mun yang “agak belakang” itu, banyak orang dan netizen komplain. Mereka menganggap panitia tak menghormati Kyai yang amat dihormati itu, kemudian mengembangkan sangkaan panitia lebih menghormati pejabat negara dari pada para ulama. Tapi saya justru mencoba menyelami bagaimana Mbah Mun, Mbah Cholil, dan Mbah Sahal (KH. Sahal Mahfudz) mengajarkan tentang makna rendah hati, andap asor, dan tak gila hormat. Mbah Mun dari sikapnya itu, sebenarnya hendak mengajarkan tentang makna rendah hati, yang memang sulit diterima oleh orang yang tinggi hati, dan gila hormat. Sering sekali Mbah Mun menunjukkan sikap insan yang tak suka ribut, apalagi soal-soal yang begituan. Beliau memang memiliki derajat berbeda. Mbah Mun hendak mengajarkan bahwa mutiara tetaplah mutiara, dimanapun ia berada.
Pasca itu, berita yang santer adalah berita tentang hiruk pikuk pleno muktamar yang sulit sekali mengambil kata sepakat tentang cara memilih pimpinan tertinggi (Rais Aam) dan Ketua Tanfidz. Saat membaca berita itu, dalam hati saya yakin akan hadirnya tokoh yang dihormati, disegani, dan petuahnya amat dipatuhi. Saat-saat seperti itu, saya teringat dengan munculnya Semar dalam pewayangan, yang akan muncul ketika goro-goro, keadaan kacau-balau, dan carut marut. Semar pun memberikan arahan ke arah perbaikan, saran dan pendapatnya solutif dan dapat diterima semua kalangan.
Dua sosok pun langsung terbayang.  Saya teringat dengan Mbah Sahal dan Gus Mus. Kepulangan Mbah Sahal ke rahmatullah memang terasa amat cepat bagi kami yang mencintainya. Gus Mus pun merasa ketiban sial untuk menjadi Rais Aam, acapkali beliau mengatakan bahwa ia tak pernah tau jika Rais Aam mangkat, maka Wakil Rais Aam yang harus menggantikan. Apalagi, ia tak pernah tahu jika Mbah Sahal akan dipanggil secepat itu. Andai saja Gus Mus tahu, jika suatu saat ia akan menggantikan Mbah Sahal, ia tak akan pernah mau mengambil jabatan itu. Rais Aam NU itu amanah yang amat sangat berat dan keramat.

Dan waktu yang dinanti itu pun tiba….

Saat suasana tak terkendali, Sang Rais Aam pun memegang mikrofon…

Raut wajah beliau menunjukkan beliau sedang lelah selelah lelahnya. Beliau sudah tak bisa tidur semalaman, memikirkan muktamar yang ada dalam tanggung jawabnya…namun ia harus tetap pegang kendali muktamar kali ini. Suaranya bergetar, bahkan menahan isak….

“Ketika saya ikuti persidangan-persidangan yang sudah lalu, saya menangis karena NU yang selama ini dicitrakan sebagai organisasi keagamaan, panutan penuh dengan akhlakul karimah, yang sering mengkritik praktik-praktik tak terpuji dari pihak lain ternyata digambarkan di media massa begitu buruknya. Saya malu kepada Allah, malu pada KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri dan para pendahulu kita. Lebih-lebih ketika saya disodori koran yang headlinenya ‘Muktamar NU Gaduh, Muktamar Muhammadiyah Teduh’.

Saya mohon sekali lagi, kita membaca surat Al-Fatihah dengan ikhlas, mohon syafaatnya (Nabi Muhammad SAW).

Rais Aam yang membikin saya menjadi punya posisi seperti ini, KH Sahal Mahfud, mengapa beliau wafat sehingga saya memikul beban ini. Saya pinjam telinga anda, doakan saya, ini terakhir saya menjabat jabatan yang tidak pantas bagi saya.

Dengarkanlah saya sebagai pemimpin tertinggi anda.

Mohon dengarkan saya, dengan hormat kalau perlu saya mencium kaki-kaki anda semua agar mengikuti akhlakul karimah, Akhlak KH Haysim Asy’ari dan pendahulu kita.

Saya panggil kiai sepuh, rata-rata mereka prihatin semua, prihatin yang sangat mendalam. Di tanah ini terbujur kiai-kiai kita, di sini NU didirikan apa kita mau meruntuhkan di sini juga, Naudzubillah, saya mohon dengan kerendahan hati Anda melepasksan semuanya, dan memikirkan Allah dan pendiri kita.

Jadi, setelah mempelajari situasi, maka para kiai yang berkumpul sampai tadi siang, di samping keprihatinan juga beberapa poin yang perlu dijadikan pedoman pembahasan selanjutnya.

Cuma sedikit yang kita sepakati untuk solusi agar tidak sama dengan di Senayan.

Pertama, apabila ada pasal yang belum disepakati dalam muktamar tentang pemilihan Rais Aam, tak bisa melalui musyawarah mufakat, maka akan dilakukan pemungutan suara oleh para Rois Syuriah

Kalau nanti Anda-Anda tidak bisa disatukan lagi, maka saya dengan para kiai memberikan solusi, kalau bisa musyawarah kalau tak bisa pemungutan suara. Itu AD/ART kita. Karena ini urusan pemilihan Rais Aam, maka kiai-kiai akan memilih pemimpin kiai.

Dan tatib yang sudah disepakati perlu segera dilakukan. Kalau ini Anda tetap tidak terima, maka saya yang terima, karena saya hanya Mustofa Bisri, saya hanya orang yang ditimpa kecelakaan menjadi pengganti Kiai Sahal. Kalau tidak, lepaskan saya saja.

Doakan mudah-mudahan saya hanya sekian saja untuk jadi Rais Aam.

Saya sejak semalam belum tidur, bukan apa-apa, karena memikirkan anda-anda sekalian. Saya mohon maaf kepada semua muktamirin terutama yang dari jauh dan tua-tua, teknis panitia yang mengecewakan anda, maafkan lah mereka, maafkan saya. Itu kesalahan saya, mudah-mudahan anda sudi memaafkan saya….”

Suasana sidang yang sebelumnya dipenuhi hirup pikuk, pada saat Gus Mus Sang Rais Aam bertutur berubah menjadi sepi-sesepi-sepinya, beberapa orang menangis, beberapa meneteskan air mata, ada yang berkaca-kaca, dan kebanyakan menunduk…

Membayangkan beliau memberikan tausiah ini, air mata saya pun jatuh. Kekuatan ruhiyah yang luar biasa. Tutur bahasa yang santun yang mampu menembus dada-dada yang sedang bergejolak. Mendinginkan dada-dada yang panas. Menenangkan gejolak amarah yang meronta-ronta. Mengingatkan kembali tentang Allah dan Rasul-Nya. Mengajak kembali kepada persatuan dan bukan pada ambisi picisan.

Tausiyah itu seperti dirijen paduan suara. Semua suara seakan tunduk di ujung tongkatnya. Semuanya tak mampu menolak ajakannya, untuk kembali taat kepada pimpinan tertinggi. Semuanya tunduk terpekur mengakui kesalahan-kesalahan sendiri tanpa harus dicaci. Ia hanya ungkapkan maaf, tanpa mau mencari kambing hitam atau putih. Ia ambil segala resiko caci maki atas segala kejadian yang terjadi. Ia mohonkan maaf, untuk mendapatkan semua ridho di hati. Ia memang pantas menjadi Rais Aam. Terima kasih Gus, telah mengajarkan kami tentang makna menjadi pemimpin sejati…

—belajar menjadi orang tua—

Author: dwiyanto indiahono  |  Category: Beranda

pesanku2

—semoga engkau bahagia di sana ananda—

anak sekecil itu kepalanya berdarah
diayun bambu ayahnya yang sudah dibakar amarah
anak tetaplah anak, setelah mencuci muka karena berdarah ia hampiri sang ayah
ia sodorkan tangan untuk pinta maaf dari ayahnya
diciumnya tangan sang ayah dengan penuh sukma
lama nian tangan itu ada di genggamannya
tak beringsut hingga sang ayah menarik tangannya
ayah yang sudah terlanjur marah baru terperanjat
meski sudah dibasuh, ada bercak darah di wajah anaknya
dibelainya wajah sang anak, binar mata sang anak bertemu kedua bola matanya
ada senyum bercampur sakit di sela darah yang pelan mengalir
darah itu makin keras, dan deras
anak itu terhuyung di depan sang ayah
dipeluk erat dan kepanikan mulai merambat
dibalutkan kain di kepala sang anak, agar darah berhenti mengalir
namun darah enggan mengerti, dan ia terus saja mengalir
dipeluknya erat sang anak, diboyong dan dibawanya lari
ia berteriak, “toloong…toloong anak saya”
namun semua terlambat
nafas mulai tersengal
dipelukan sang ayah, anak itu menemui pemilik aslinya…

Lereng Gunung Slamet, 24 Februari 2015

Penggalan narasi di atas adalah kisah nyata di ujung bumi sana. Ia tak usah ditafsirkan lagi. Hanya butuh introspeksi. Di sana, ada cerita orang tua yang tak juga mampu menunjukkan sabar. Di sana ada cerita anak suci yang selalu tahu atas setiap kesalahan yang diperbuatnya. Pagi ini mungkin pagi terpanjang untuk menunggu kalian pulang sekolah anak-anakku. Dalam hati ayah berjanji, siang ini akan ayah tunggu kalian pulang dari sekolah. Ayah telah sediakan pelukan hangat untuk kalian, sebagai untaian kata maaf. “Maaf jika ayah belum sempurna memberi pelajaran sabar untuk kalian, Ayah sayang kepada kalian.”